Arnisfarida's Blog


PENENTUAN KONSENTRASI TEMBAGA DALAM AKUADES DAN LARUTAN TEMBAGA DENGAN ATOMIC ABSROPTION SPECTROSCOPY (AAS)
Mei 13, 2010, 5:52 pm
Filed under: SPEKTROSKOPI | Tag:

laporan praktikum kromatografi 2-ARNIS FARIDA 2010

Pendahuluan

Prinsip analisis dengan AAS (Atomic Absroption Spectroscopy) adalah interaksi antara energi radiasi dengan atom unsur yang dianalisis. AAS banyak digunakan untuk analisis unsur. Atom suatu unsur akan menyerap energi dan terjadi eksitasi atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan sebagian atau seluruh tenaga eksitasinya dalam bentuk radiasi. Frekuansi radiasi yang dipancarkan karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang tereksitasi yang kemudian mengalami deeksitasi. Teknik ini dikenal dengan SEA (spektrofotometer emisi atom). Untuk AAS keadaan berlawanan dengan cara emisi yaitu, populasi atom pada tingkat dasar dikenakan seberkas radiasi, maka akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. Penyerapan ini menyebabkan terjadinya pengurangan  intensitas radiasi yang diberikan. Pengurangan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. AAS saat ini memiliki lampu katoda yang terdiri dari berbagai unsur seperti Al, Na, K, Pb, Zn, Mn, Co, Cu, B, Ni, Sb, Mo, Se, P, Cr dan sebagainya. Lampu katoda yang akan dipakai disesuaikan dengan unsur yang akan dianalisis (Riyanto 2009).

Tembaga memiliki warna kemerah-merahan. Unsur ini sangat mudah dibentuk, lunak, dan merupakan konduktor yang baik untuk aliran elektron (kedua setelah perak). Tembaga ditemukan secara alami, seperti yang ditemukan dalam mineral-mineral seperti cuprite, malachite, azurite, chalcopyrite, dan bornite. Deposit bijih tembaga yang banyak ditemukan di AS, Chile, Zambia, Zaire, Peru, dan Kanada. Bijih-bijih tembaga yang penting adalah sulfida, oxida-oxidanya, dan karbonat. Tembaga diambil dengan cara smelting, leaching, dan elektrolisis. Tembaga memiliki kegunaan yang luas sebagai racun pertanian dan sebagai algisida dalam pemurnian air. Senyawa-senyawa tembaga seperti solusi Fehling banyak digunakan di bidang kimia analitik untuk tes gula (Mohsin 2006)

Tujuan

Praktikum bertujuan menentukan konsentrasi tembaga dalam akuades dan larutan tembaga dengan metode spektrofotometri serapan atom.

Prosedur

Alat-alat yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dan dibilas dengan akuabides, kemudian dibuat larutan standar tembaga dengan dipipet 1,0; 2,0; 3,0 dan 4 ml larutan stok standar Cu 100 ppm dan ditempatkan dalam labu takar 25 ml. Kemudian larutan ditepatkan sampai tanda tera dengan akuabides, sehingga menghasilkan konsentrasi larutan standar Cu 1, 2, 3, dan 4 ppm. Alat Spektroskopi serapan atom dinyalakan. Larutan standar dianalisis untuk mengetahui absorbansnya dengan dimasukkannya aspirator ke dalam larutan, dengan terlebih dahulu dilakukan pengukuran terhadap blanko. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap sampel Cu dan akuades, analisis dilakukan masing-masing sebanyak enam kali ulangan.

Hasil pengamatan

Tabel 1 Pengukuran Absorbans larutan standar Cu

Volume (ml)

Konsentrasi (ppm)

Absorbans

blanko

0

-0.001

0.25

1

0.092

0.50

2

0.212

0.75

3

0.253

1.00

4

0.371

Gambar 1 Kurva pengukuran absorbans larutan standar Cu

Tabel 2 Pengukuran sampel Cu

Ulangan Absorban Konsentrasi (ppm)
1 0.211 2.2494
2 0.201 2.1355
3 0.179 1.8849
4 0.189 1.9988
5 0.204 2.1697
6 0.199 2.1127
Rata-rata 2.0918

Pembahasan

Suatu senyawa logam dapat ditentukan konsentrasinya dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom nyala. Logam Cu dianalisis pada panjang gelombang 324,70 nm. Metode ini dipilih untuk menentukan konsentrasi tembaga dalam sampel Cu dan akuades. Untuk menentukan konsentrasi Cu maka dibuat kurva standar dari larutan standar Cu 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm dan 4 ppm. Dari kurva standar tersebut diperoleh persamaan garis y = 0.0135 + 0.0878x dengan nilai regresi 0.9690. Kurva standar yang diperoleh kurang baik karena kelinieran yang baik memiliki nilai regresi 0.99-1.00. Ketidaklinieran ini dapat disebabkan karena pemipetan larutan standar yang kurang tepat sehingga mempengaruhi nilai absorbans yang diperoleh. Selain itu dapat pula terjadi penyimpangan hukum Lambert-Beer seperti sebab instrumental (kelelahan alat), sebab kimia (hidrolisis dan ionisasi) dan sebab nyata.

Konsentrasi Cu didapat dengan mensubtitusikan absorbansi sampel kedalam persamaan garis. Hasil analisis konsentrasi Cu rata-rata (mg/L) dalam larutan Cu sebesar 2.0918 mg/L dan konsentrasi Cu rata-rata (mg/L) dalam akuades sebesar -0.3075mg/L. Hasil yang diperoleh menunjukkan konsentrasi Cu dalam larutan Cu lebih besar daripada konsentrasi Cu dalam akuades. Larutan Cu dibuat dengan mencampurkan sejumlah Cu dengan akuades. Oleh karena itu konsentrasi Cu lebih besar. Akuades diperoleh dari hasil penyulingan. Meskipun air mengandung Cu, karena proses penyulingan ion-ion seperti Cu akan teruapkan sehingga didapat air yang lebih murni yang disebut akuades. Ambang batas konsentrasi dari unsur Cu pada air berkisar antara 1 – 5 mg/l. Bila konsentrasi Cu lebih tinggi akan menganggu kehidupan bioata air karena biota perairan sangat peka terhadap kelebihan Cu dalam perairan tempat hidupnya (Palar 1994).

Absorbansi dari sampel akuades tidak masuk kedalam deret standar dan konsentrasi Cu yang diperoleh sangat kecil. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat larutan standar dengan konsentrasi yang lebih rendah lagi. Standar deviasi yang diperoleh dari sampel Cu sebesar 0.1312 dengan %RSD yaitu 6.22% dan pada sampel akuades sebesar 6.2440.10-3 dengan %RSD yaitu -2.0305. Hasil yang diperoleh akan baik bila memiliki nilai %RSD 1-2%, kurang teliti bila nilai %RSD 2-5% dan tidak teliti bila nilai %RSD lebih besar dari 5%. AAS merupakan alat yang memiliki sensitivitas tinggi. Kesalahan yang mungkin terjadi dapat dikarenakan faktor matriks sampel antara lain dapat berupa pengendapan unsur yang dianalisa, hidrolisis ion-ion logam dalam air, reaksi dengan anion lain, jumlah cuplikan dan standar yang mencapai nyala tidak sama karena perbedaan sifat dari kedua larutan tersebut.

Simpulan

Berdasarkan hasil percobaan konsentrasi Cu dalam larutan Cu sebesar dengan %RSD yaitu dan konsentrasi Cu dalam akuades sebesar dengan %RSD yaitu .

Daftar Pustaka

Khopkar SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Suptarahardjo, penerjemah. Jakarta : UI Press. Terjemahan dari : Basic Concept Of Analytical Chemistry.

Mohsin Yulianto. 2006. Tembaga (terhubung berkala)

http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/tembaga/ (14 Apr 10)

Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT Rineka. Jakarta.

Riyanto .2009. Spektrofotometer serapan atom (terhubung berkala). www.uii.ac.id

(16 Mar 10)



PENENTUAN KADAR ZAT PENGAWET DALAM MINUMAN ISOTONIK DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI
Mei 12, 2010, 7:57 pm
Filed under: KROMATOGRAFI | Tag:

LAPORAN PRAKTIKUM KROMATOGRAFI 2- ARNIS FARIDA 2010

Pendahuluan

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia. KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat. Banyak kelebihan metode ini jika dibandingkan dengan metode lainnya yaitu mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran, mudah melaksanakannya, kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi, dapat dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan yang dianalisis, resolusi yang baik, dapat digunakan bermacam-macam detektor, kolom dapat digunakan kembali, dan mudah melakukan “sample recovery” (Effendy 2004)

Suatu detektor dibutuhkan untuk mendeteksi adanya komponen sampel di dalam kolom (analisis kualitatif) dan menghitung kadamya (analisis kuantitatif). Detektor yang baik memiliki sensitifitas yang tinggi, gangguan (noise) yang rendah, kisar respons linier yang luas, dan memberi respons untuk semua tipe senyawa. Suatu kepekaan yang rendah terhadap aliran dan fluktuasi temperatur sangat diinginkan, tetapi tidak selalu dapat diperoleh. Detektor KCKT yang umum digunakan adalah detektor UV 254 nm. Variabel panjang gelombang dapat digunakan untuk mendeteksi banyak senyawa dengan range yang lebih luas. Detektor indeks refraksi juga digunakan secara luas, terutama pada kromatografi eksklusi, tetapi umumnya kurang sensitif jika dibandingkan dengan detektor UV.

Natrium benzoat yaitu garam atau ester dari asam benzoat (C6H5COOH) secara komersial dibuat dengan sintesis kimia. Rumus kimia natrium benzoat yaitu C7H5NaO2. Banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran. Termasuk kedalam zat pengawet organik. Produk pangan yang banyak menggunakan natrium benzoat sebagai pengawet adalah minuman ringan serta produk minuman yang terbuat dari buah. Berwarna putih, granula tanpa bau atau hampir bau, bubuk kristal atau serpihan. Lebih larut dalam air dibandingkan asam benzoat dan juga dapat larut dalam alkohol. Memiliki fungsi sebagai anti mikroba yang optimum pada pH 2.5-4.0, menghambat pertumbuhan kapang dan khamir (pengawet). Kalium sorbat adalah salah satu bahan pengawet makanan dan minuman, diturunkan sebagai garam potasium dari asam sorbat. Berat molekul kimia ini adalah 150,22 g / molekul. Nama ilmiah adalah kalium (E, E)-hexa-2 ,4-dienoate. Kalium sorbat digunakan untuk membatasi produksi ragi dan jamur dalam berbagai bahan makanan.

Tujuan

Praktikum bertujuan menentukan kadar zat pengawet natrium benzoat dan kalium sorbat dalam minuman isotonik dengan kromatografi cair kinerja tinggi.

Prosedur

Sampel minuman isotonik diencerkan 10 kali, sebanyak 2.5 ml sampel diambil dengan pipet ke dalam labu takar 25 ml dilakukan duplo. Sampel pertama tidak ditambahkan zat pengawet dan sampel kedua ditambahkan 5 ml natrium benzoat dan dipaskan sampai tanda tera dengan akuabides.

Standar natrium benzoat, kalium sorbat dan standar campuran natrium benzoat dan kalium sorbat dibuat dengan konsentrasi 20 ppm, masing-masing dari larutan standar induk 100 ppm diambil dengan pipet sebanyak 5 ml kedalam labu takar 25 ml dan dipaskan sampai tanda tera dengan akuabides.

Standar dan sampel dihilangkan gelembung dan pengotor dengan ultrasonic cleaner lalu disaring dengan membran filter 0.45 mikron. Selanjutnya diatur kondisi alat seperti fase gerak asam asetat dan asetonitril dengan perbandingan 60:40, laju alir yaitu 1 ml/menit, detektor UV 235 nm dan waktu analisis 12 menit. Kemudian sebanyak 25 µl diinjeksikan kedalam kromatografi cair kinerja tinggi.

Hasil pengamatan

Tabel 1 luas area natrium benzoat dan kalium sorbat

Senyawa Luas area Waktu retensi
Std. Na-Benzoat 7814296 10.693
Std. Kalium Sorbat 8779756 12.987
Sampel 1 Na-Benzoat 7017168 10.763
Sampel 2 Na-Benzoat 4421284 10.817
Sampel 2 kalium sorbat 5095097 13.167

Konsentrasi standar 30 ppm

Perbandingan luas area sampel 1 natrium benzoat :

Perbandingan luas area sampel 2 natrium benzoat :

Perbandingan luas area sampel 2 kalium sorbat :

Pembahasan

Penentuan kadar zat pengawet dalam minuman isotonik dilakukan dengan kromatografi cair kinerja tinggi. Zat pengawet seperti natrium benzoat dan kalium sorbat yang dapat terkandung dalam minuman isotonik berguna untuk mempertahankan produk dari kerusakan dan bakteri serta kapang. Selain natrium benzoat dan kalium sorbat terdapat pula beberapa zat pengawet lain yang terkandung dalam makanan atau minuman seperti asam propionat, asam sorbat, belerang dioksida, etil p-hidroksi benzoat, kalium benzoat, kalium bisulfit, kalium nitrat, kalium nitrit, kalium propionat, kalium sulfit, kalsium benzoat, kalsium propionat, metil p-hidroksi benzoat, natrium bisulfit, natirum metabisulfit, natrium nitrat, natrium nitrit, natrium propionat, natrium sulfit, nisin, dan propil p-hidroksi benzoat (Mangku 2006).

Percobaan tidak menggunakan deret standar, untuk menghitung konsentrasi zat pengawet dalam minuman isotonik dilakukan dengan perbandingan luas area. Luas area sampel dibandingkan dengan luas area standar dan dikalikan konsentrasi standar serta faktor pengenceran sebesar 10 kali. Untuk sampel pertama tidak dilakukan penambahan standar dan untuk sampel 2 dilakukan penambahan standar atau adisi standar yaitu kedalam sampel dimasukkan sedikit standar dengan konsentrasi tertentu dengan maksud mengetahui konsentrasi sampel sebenarnya. Namun dalam percobaan, pemisahan yang dihasilkan tidak baik. Puncak dari natrium benzoat dan kalium sorbat saling berdekatan karena panjang gelombang maksimum kedua zat tersebut saling berdekatan, natrium benzoat memiliki panjang gelombang maksimum pada 225 nm dan kalium sorbat pada 254 nm. Oleh karena itu digunakanlah data sekunder.

Dari data yang diperoleh, kadar zat pengawet natrium benzoat pada sampel 1 sebesar  dengan persen bobot per volum yaitu  yang artinya dalam 100 ml sampel terdapat 0.01 gram zat pengawet natrium benzoat. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 157.89%. Sampel 2 mengandung zat pengawet natrium benzoat dan kalium sorbat. Dari data yang diperoleh, kadar zat pengawet natrium benzoat pada sampel 2 sebesar  dengan persen bobot per volum yaitu  yang artinya dalam 100 ml sampel terdapat 0.01 gram zat pengawet natrium benzoat. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 52.63%. Selain natrium benzoat, sampel 2 juga mengandung zat pengawet kalium sorbat. Berdasarkan data yang diperoleh, kadar zat pengawet kalium sorbat pada sampel 2 sebesar  dengan persen bobot per volum yaitu  yang artinya dalam 100 ml sampel terdapat 0.01 gram zat pengawet kalium sorbat. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 45.45%. Persen ketepatan yang baik berkisar antara 70-130%.

Menurut Guru Besar Teknologi Pangan & Gizi IPB, Prof Made Astawan, menjelaskan natrium benzoat aman dikonsumsi jika kadarnya tidak melebihi 600 ppm. Sementara kalium sorbat aman dalam taraf di bawah 1.000 ppm (Elistiawaty 2006). Penggunaan maksimum K-sorbat dalam makanan berkisar antara 0,05 – 0,3 % untuk yang diaplikasikan langsung dan antara 10 – 20 % untuk yang disemprotkan atau diaplikasikan pada permukaan makanan (Lutfi 2009). Menurut Permenkes Nomor 722/Menkes/IX/88 tentang kadar aman bagi tubuh untuk mengasup kalium sorbat yakni 1.000 mg per liter dan natrium benzoat 600 mg per liter. Bila melebihi ambang batas bahan pengawet yang aman dikonsumsi manusia dapat menimbulkan penyakit Systemic Lupus Eritematosus (SLE) dan semua penderita SLE beresiko meninggal dunia (Mangku 2006).

Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab kesalahan antara lain, sampel masih terdapat pengotor sehingga pemisahan tidak baik. Pada sampel terdapat juga zat-zat lain yang mempunyai waktu tambat yang berdekatan dengan waktu tambat natrium benzoat dan kalium sorbat, khusunya gula dan vitamin. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi puncak yang dihasilkan oleh sampel untuk memastikan bahwa puncak itu adalah puncak sampel yang dimaksud. Selain itu, sampel yang diinjeksikan tidak boleh ada gelembung karena gelembung dapat menganggu proses pemisahan.

Daftar Pustaka

Effendy. 2004. Jurnal Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dalam Bidang Farmasi Jurusan

Farmasi Fakultas Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara

Elistiawaty .2006. Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat Aman Dikonsumsi (terhubung

berkala) www.detiknews.com (2 Apr 10)

Gritter. 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung : penerbit ITB.

Lutfi Achmad. 2009. Kalium Sorbat (terhubung berkala) www.chem-is-try.com (1 Apr 10)

Mangku. 2006. Produk Minuman Isotonik Berpengawet (terhubung berkala)

www.suarakaryaonline.com (1 Apr 10)



PEMISAHAN DAN PENENTUAN KADAR ETANOL DENGAN KROMATOGRAFI GAS
Mei 12, 2010, 7:48 pm
Filed under: KROMATOGRAFI | Tag:

laporan praktikum kromatografi 2- arnis farida 2010

Pendahuluan
Etanol yang nama lainnya alkohol, aethanolum, etil alcohol, adalah cairan yang bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, mudah terbakar, higroskopik dengan karakteristik bau spiritus dan rasa membakar, mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Campur dengan air, kloroform, eter, gliserol, dan hampir semua pelarut organic lainnya. Penyimpanan pada suhu 8-15°C, jauh dari api dalam wadah kedap udara dan dilindungi dari cahaya, serta mempunyai rumus struktur sebagai berikut :

CH3-CH2-OH

Kromatografi gas adalah teknik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa-senyawa tersebut harus mudah menguap dan stabil pada temperatur pengujian, utamanya dari 50 – 300°C. Jika senyawa tidak mudah menguap atau tidak stabil pada temperatur pengujian, maka senyawa tersebut bisa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas (Mardoni 2005). Dalam kromatografi gas atau KG, fase gerak berupa gas lembam seperti helium, nitrogen, argon bahkan hidrogen digerakkan dengan tekanan melalui pipa yang berisi fase diam. Tekanan uap atau keatsirian memungkinkan komponen menguap dan bergerak bersama-sama dengan fase gerak yang berupa gas. Kromatografi gas merupakan metode yang sangat tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit.. Komponen campuran dapat diidentifikasi dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi) yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam kolom (Gritter 1991).
Metode standar internal dilakukan dengan menggunakan zat standar lain ( S) yang ditambahkan ke dalam larutan standar X dan dalam larutan sampel yang mengandung unsur X yang akan dianalisis dengan konsetrasi yang sama kemudian larutan diukur pada panjang gelombang X dan panjang gelombang S (untuk detektor UV). Kurva kalibrasi dibuat dengan mengalurkan grafik hubungan (Ix/Is) terhadap konsentrasi (Cx) dari kurva tersebut dapat diperoleh harga konsetrasi zat sample yang dianalisis.
Keterangan : Ix = intensitas sample pada panjang gelombang maks cuplikan
Is = intensitas sample pada panjang gelombang mak zat standar lain
Cx = konsentrasi cuplikan

Tujuan
Percobaan bertujuan memisahkan dan menentukan kadar etanol dengan metode standar internal menggunakan kromatografi gas.

Prosedur
Pemisahan etanol, larutan standar disiapkan dengan berbagai konsentrasi standar yaitu 1%, 2%, 3% dan 4%. Untuk larutan standar 1% yaitu dipipet 1.25 ml etanol dalam labu takar 25 ml, untuk standar 2% dipipet 2.5 ml etanol, untuk standar 3% dipipet 3.75 ml etanol dan untuk standar dengan konsentrasi 4% dipipet 5 ml etanol. Kemudian pada masing-masing labu takar ditambahkan 5 ml standar internal n-propanol dan ditera dengan akuabides. Untuk sampel dibuat dari 5 ml sampel alkohol dan 5 ml n-propanol lalu ditera dengan akuabides dalam labu takar 25 ml. Selanjutnya sebanyak 2 µl larutan standar dan sampel diinjeksikan kedalam alat kromatografi gas. Ditunggu dan dicatat waktu retensi dan luas puncak dari komponen alkohol yang dianalisis.

Hasil
Tabel 1 Perbandingan luas area etanol dan n-propanol
Konsentrasi standar (%) Luas area Et-OH Luas area Pr-OH Et-OH/Pr-OH
1 1696 5801 0.29
2 26168 71420 0.37
3 111921 152526 0.73
4 66884 62463 1.07
Sampel 1 71984 671357 0.11
Sampel 2 3756 45354 0.08

Sampel 1 :
y = a + bx
0.11 = -0.06 + 0.27x
x = 0.6296 %
x . FP = 0.6296 . 5 = 3.1481%

Sampel 2 :
y = a + bx
0.08 = -0.06 + 0.27x
x = 0.5185 %
x . FP = 0.5185 . 5 = 2.5925%

x rata-rata = (3.1481% + 2.5925%) /2 = 2.8703%

Pembahasan
Terdapat tiga metode analisis kuantitatif dengan menggunakan kromatografi gas, yaitu metode standar kalibrasi, metode standar internal, dan metode normalisasi area. Pada percobaan digunakan metode standar internal dengan menambahkan standar internal yaitu n-propanol kedalam standar etanol. Metode standar internal atau standar dalam, yaitu metode yang digunakan apabila tinggi dan luas peak kromatografi tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya contoh, tetapi juga oleh fluktuasi laju aliran gas pengemban, temperatur kolom dan detektor, dan sebagainya, yaitu oleh variasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan dan respon detektor. Efek tersebut dapat dihilangkan dengan metode standar internal yang diketahui dari zat pembanding ditambah sampel yang akan dianalisis.
Syarat untuk standar internal yang efektif, yaitu pertama harus menimbulkan peak yang terpisah sepenuhnya, tapi harus terelusi dengan komponen-komponen yang akan diukur. Kedua, tinggi atau luas peak harus sama dengan tinggi atau luas peak dari komponen-komponen yang akan diukur. Ketiga, secara kimiawi harus serupa dengan sampel, tapi tidak diperoleh dalam sample aslinya. Untuk menganalisis sampel, pada campuran/cuplikan sampel ditambahkan standar internal n-propanol dengan kuantitas dan volume yang sama yaitu 5 ml, maka dari angka banding akan teramati luas-luas peak dan konsentrasi zat terlarut yang dapat dibaca pada kurva. Angka banding untuk standar 1%, 2%, 3%, dan 4% masing-masing sebesar 0.29, 0.37, 0.73, dan 1.07. Angka banding untuk sampel pertama sebesar 0.11 dan untuk sampel kedua sebesar 0.08. Dari angka banding tersebut dibuatlah kurva kalibrasi hubungan antara konsentrasi standar dalam persen dan rasio (angka banding). Kurva kalibrasi yang dihasilkan dari injeksi sejumlah standar etanol menghasilkan suatu garis lurus dengan nilai r (kelinieran) yaitu 0.9445. Kurva yang diperoleh tidak terlalu baik. Kurva yang baik memiliki nilai r antara 0.99-1.00.
Metode standar internal berfungsi mengeliminasi kesalahan dalam proses injeksi dalam kromatografi gas. Injeksi memiliki kemungkinan kesalahan yang besar. Saat sebelum cuplikan mencapai detektor, cuplikan sudah menguap terlebih dahulu sehingga yang masuk kedalam kolom sudah berkurang. Seperti dalam percobaan, luas area standar 2% jauh lebih besar dibandingkan luas area standar 1%, hal ini dapat dikarenakan kesalahan saat injeksi (valve dan saat penginjeksian cuplikan sudah menguap). Detektor yang lebih sering digunakan adalah FID (Flame Ionization Detector). FID juga memiliki kekurangan, yaitu pengrusakan setiap hasil yang keluar dari kolom sebagaimana yang terdeteksi. Jika akan mengrimkan hasil ke spektrometer massa, misalnya untuk analisa lanjut, detektor ini tidak dapat digunakan.

Simpulan
Dari hasil percobaan diperoleh kesimpulan bahwa kadar etanol dalam sampel sebesar 2.8703%.

Daftar Pustaka
Gritter. 1991. Kromatografi. Bandung : Penerbit ITB.
Khopkar S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Mardoni, M.M.Yetty Tjandrawati . 2005. Jurnal Perbandingan Metode Kromatografi Gas Dan Berat Jenis Pada Penetapan Kadar Etanol Dalam Minuman Anggur.
Underwood AL dan Day RA. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Sopyan lis,
penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Quantitative Analysis.



PENENTUAN KADAR KAFEIN DALAM OBAT ANALGESIK DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI
Mei 12, 2010, 7:37 pm
Filed under: KROMATOGRAFI | Tag:

PENENTUAN KADAR KAFEIN DALAM OBAT ANALGESIK DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Pendahuluan
Kafein adalah seyawa kimia yang terdapat didalam kopi, cocoa, dan juga teh, dengan rumus kimia C8H10O2N4.

Gambar 1 Struktur kafein
Kelarutan kafein dalam air semakin meningkat dengan naiknya temperatur. Secara umum kafein telah digunakan secara luas dalam bidang industri pangan dan farmasi, seperti dalam pembuatan minuman kaleng soft drink, dan juga obat untuk terapi / stimulan perbaikan syaraf dan diuretik. Kafein termasuk dalam alkaloid kelompok purine, disebut teobromin jika berada dalam coklat dan teamin jika berada dalam teh. Kafein meleleh pada temperatur 237,5 °C dan menyublim pada temperatur 176 °C tanpa terdekomposisi. Larutan jenuh kafein dalam air bersifat netral. Selain memberikan efek peningkatan energi, kafein juga berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi dan berperan sebagai diuretik. Selama konsumsi kafein tidak berlebihan, efek positif yang ditimbulkan dapat meng-cover efek negatif yang muncul. Berdasarkan pengalaman, konsumsi ideal kafein untuk mendapatkan manfaat yang diharapkan adalah 50 – 300 mg. Pada dosis ini diharapkan akan timbul efek kewaspadaan, energi, dan peningkatan konsentrasi. Kafein yang dikonsumsi secara berlebihan mengakibatkan gejala kegelisahan yang berlebihan, gugup, dan insomnia (Sitompul 2009).
Kolom pada KCKT terdapat dua jenis, yaitu kolom utama dan kolom pelindung. Kolom utama memiliki penyangga yaitu silika. Pada umumnya tabung kolom terbuat dari baja nirkarat yang digosok, berdiameter 3-5 mm dan panjang 5-30 cm. Panjang kolom yang dipakai berbanding lurus dengan kerumitan cuplikan yang akan dipisahkan. Campuran sederhana sering dapat dipisahkan dengan kolom 5 cm, serta laju aliran fase gerak yang tinggi. Campuran yang lebih rumit mungkin memerlukan kolom 15-25 cm untuk pemisahan yang sempurna. Kolom pelindung adalah kolom pendek biasanya 5 cm dengan kemasan kolom utama dan dipasang diantara sistem penyuntikan cuplikan dan kolom utama. Kolom jenis ini murah, mudah dikemas, dan tekanan baliknya kecil. Kolom pelindung harus sering diganti untuk memelihara keandalan kolom utama yang harganya jauh lebih mahal (Gritter 1991).

Tujuan
Praktikum bertujuan menentukan kadar kafein dalam obat analgesik dengan kromatografi cair kinerja tinggi.

Prosedur
Preparasi standar, larutan induk kafein 100 ppm dibuat menjadi larutan standar 10, 25, dan 50 ppm dalam labu takar 25 ml. Larutan standar induk dipipet secara berurutan sebanyak 2,5 ml , 6,25 ml dan 12,5 ml lalu ditera dengan akuabides. Preparasi sampel, bobot awal obat analgesik ditimbang. Kemudian obat analgesik tersebut digerus dalam mortar dan ditimbang sebanyak 0.05 gram. Selanjutnya dilarutkan dengan akuabides dalam labu takar 50 ml. Semua standar dan sampel disaring dengan membran filter. Sebanyak 10 mikroliter standar dan sampel diinjeksikan kedalam kromatografi cair kinerja tinggi dengan waktu pemisahan selama 5 menit.

Hasil dan Perhitungan
Tabel 1 Deret standar kafein
Konsentrasi standar (ppm) Luas Area
10 471425
25 1144630
50 1956653

Gambar 2 Kurva deret standar

Tabel 2 Penentuan kadar kafein dalam sampel obat analgesik
Ulangan Luas Area Konsentrasi (ppm) % b/b % ketepatan % ketelitian
1 2392242 61.1309 5.88 97.51
2 603842 12.3185 1.231 20.16 62.62
3 2343887 59.8953 5.87 97.38
• Sampel 1 :
Bobot tablet 1 = 0.8292 gram
Bobot yang ditimbang = 0.0520 gram = 52 mg
50 mg dalam tablet %b/b = mg analat .x 100%
, mg sampel
= 50 mg .x100%
829.2 mg
= 6.03 %
Perbandingan luas area = LA Sampel . x [std]
LA Std terbesar
= 2392242 .x 50
1956653
= 61.1309 ppm
61.13089 ppm = 61.13 mg / L = 61.13 x 0.05 = 3.056 mg
% b/b = 3.056 mg .x 100%
52 mg
= 5.88%
%ketepatan = 5.88 .x 100%
6.03
= 97.51 %

• Sampel 2 :
Bobot tablet 2 = 0.8190 gram
Bobot yang ditimbang = 0.0500 gram = 50mg
50 mg dalam tablet %b/b = mg analat .x 100%
, mg sampel
= 50 mg .x100%
819 mg
= 6.11 %
.a = 152309.4082
.b = 36656.2326
.r = 0.9960
. y = a + bx
603862 = 152309.4082 + 36656.2326 x
. x = 12.3185 ppm
12.31 x 0.05 = 0.6155 mg
% b/b = 0.6155 mg .x 100%
50 mg
= 1.231%
%ketepatan = 1.231 .x 100%
6.11
= 20.16 %

• Sampel 3 :
Bobot tablet 3 = 0.8287 gram
Bobot yang ditimbang = 0.0510 gram = 51mg
50 mg dalam tablet %b/b = mg analat .x 100%
, mg sampel
= 50 mg .x100%
828.7 mg
= 6.03 %
Perbandingan luas area = LA Sampel . x [std]
LA Std terbesar
= 2343887.x 50
1956653
= 59.8953 ppm
59.8953 ppm = 59.89 mg / L = 59.89 x 0.05 = 2.9947 mg
% b/b = 2.9947 mg .x 100%
51 mg
= 5.87 %
%ketepatan = 5.87 .x 100%
6.03
= 97.38 %

%ketelitian = √ (x-x)2
. (n-1) . x 100%
x
= √ (61.1309 – 44.4482) 2 (12.3185 – 44.4482) 2
. (3-1) . + . (3-1) .
44.4482 44.4482
(12.3185 – 44.4482) 2
. (3-1) . x 100%
59.8953
= 62.62 %
Pembahasan
Penentuan kadar kafein dalam obat analagesik dilakukan dengan kromatografi cair kinerja tinggi. Kafein selain pada obat terdapat pula pada kopi, teh dan minuman berenergi. Dengan kromatografi cair kinerja tinggi dilakukan pemisahan kafein dari senyawa-senyawa lain yang terdapat dalam obat analgesik tersebut. Kafein terdeteksi pada waktu retensi 7 menit. Standar yang digunakan adalah standar kafein dengan konsentrasi 10, 25, dan 50 ppm. Konsentrasi sampel 2 masuk kedalam deret standar yaitu 12.31 ppm, sedangkan Sampel 1 dan sampel 3 konsentrasinya melebihi standar yaitu 61.1309 ppm dan 59.8953 ppm.
Sampel 1 dan sampel 3 karena konsentrasi yang didapat melebihi deret standar maka konsentrasinya tidak dihitung menggunakan regresi linier melainkan dihitung dengan perbandingan luas area. Luas area sampel dibandingkan dengan luas area terbesar dan dikalikan konsentrasi standar. Diperoleh konsentrasi sampel 1 sebesar 61.1309 ppm dan sampel 3 sebesar 59.8953 ppm. Persen bobot per bobot diperoleh sebesar 5.88 % dan 5.87% artinya bahwa dalam 100 mg sampel terkandung 5.88 mg kafein untuk sampel 1 dan 5.87 mg kafein untuk sampel 3. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 97.51% untuk sampel 1 dan 97.38% untuk sampel 3. Hasil percobaan dikatakan akurat bila memiliki persen ketepatan 70-130%. Bila hasil memiliki persen ketepatan diatas 100% dapat dikatakan kesalahan positif, kesalahan yang masih dapat ditolerir.
Sampel 2 dihitung konsentrasinya menggunakan regresi linier dengan persamaan garis y = 152309.4082 + 36656.2326 x dan nilai r sebesar 0.9960. Hasil yang diperoleh mendekati sempurna yaitu nilai r mendekati 1. Persen bobot per bobot untuk sampel 2 diperoleh 1.231% artinya bahwa dalam 100 mg sampel mengandung 1.231 mg kafein.. Dalam penetuan konsentrasi kafein pada sampel 2, obat analgesik ditimbang mengunakan kertas dan langsung dimasukkan kedalam labu takar. Seharusnya sampel ditimbang menggunakan kaca arloji dan selanjutnya dipindahkan dahulu kedalam gelas piala sambil dibilas dengan akuabides dan kemudian dari gelas piala dipindahkan kedalam labu takar dan ditera. Bila sampel obat analgesik tersebut ditimbang menggunakan kertas, dimungkinkan kertas dapat menyerap sampel sehingga konsentrasi yang akan diperoleh menjadi berkurang dari yang sebenarnya. Persen ketelitian yang diperoleh sebesar 62.62%. Dari ketiga sampel yang duiji kadar kafeinnya tidak melebihi ambang batas kafein dalam obat. Ambang batas kafein dalam obat analgesik atau pereda rasa nyeri sebesar 32-65 mg (Harsa 2010). Bila kadar kafein melebihi ambang batas dapat menyebabkan, gangguan kesehatan, seperti jantung berdebar, gelisah, insomnia (sulit tidur), gugup tremor (tangan bergetar), ketergantungan bahkan mual sampai muntah-muntah.

Simpulan
Berdasarkan percobaan diperoleh hasil bahwa kadar kafein dalam obat analgesik sebesar 62.62%

Daftar pustaka
Harsa. 2010. Efek Buruk Kafein (terhubung berkala) http://knohca.multiply.com/journal/item/7 (28 Mar 10)
Gritter. 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung : penerbit ITB.
Sitompul J.P. 2009. Studi Dekafeinasi Kopi dengan CO2 Superkritik
dan Perolehan Kafein. Jurnal Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 Bandung, 19-20 Oktober 2009



Apa itu HEMATOLOGY ANALYZER…
Februari 16, 2010, 2:53 pm
Filed under: kimia chemical chemistry

Hematology Analyzer
Hematology Analyzer adalah alat untuk mengukur sampel berupa darah. Alat ini biasa digunakan dalam bidang Kesehatan. Alat ini dapat mendiagnosis penyakit yang diderita seorang pasien seperti kanker, diabetes, dll. Prinsip kerjanya hampir sama dengan alat Fotometer namun alat ini lebih canggih.

hematology analyzer mindray bc 3000

hematology analyzer mindray bc 3000



aplikasi kimia fisik PENGERITINGAN RAMBUT (Reaksi Redoks)
Februari 16, 2010, 2:35 pm
Filed under: kimia chemical chemistry

BAB 1 PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Mengeriting adalah merubah struktur rambut lurus menjadi berombak. Kosmetik yang digunakan adalah kosmetik yang berasal dari bahan kimia, karena tujuan mengeriting selain merubah struktur juga untuk menambah keindahan penampilan rambut, maka dalam melakukan pengeritingan harus hati-hati dan cermat serta menggunakan langkah yang benar.

Pada zaman modern ini ada yang ingin mengeriting rambut lurusnya dan ada pula yang ingin meluruskan rambut keritingnya (rebonding). Reaksi kimia yang digunakan dalam mengeriting atau meluruskan rambut adalah reaksi oksidasi-reduksi ikatan disulfida. Mula-mula rambut direaksikan dengan reduktor, yang memecah ikatan S-S- menjadi dua gugus SH. Hal ini menyebabkan terpisahnya rantai protein. Rambut yang direduksi kemudian dapat diluruskan. Akhirnya, rambut yang sudah direduksi dan ditata kembali itu dioksidasi dengan oksidator untuk membentuk ikatan silang disulfida kembali. Tentu saja, ikatan disulfida sekarang tidak lagi seperti kedudukan asalnya, dan tetap berada pada bentuk yang baru.

Mengeriting rambut dasar berisi tentang mendiagnosa kulit kepala dan rambut, melakukan pencucian tanpa pengkondisian, parting rambut, blocking rambut, menggulung rambut, mengaplikasikan kosmetik pengeritingan rambut, menentukan waktu pengeritingan, mengetes hasil pengeritingan, penetralisiran pengeritingan.dan pembilasan. Proses pengeritingan rambut dari rambut lurus hingga menjadi keriting scara garis besar yaitu terjadi proses perming,yaitu proses kimia dan fisika yg bisa merubah keriting-lurusnya rambut. Suatu protein yang disebut dengan keratin, merupakan protein yang membentuk rambut manusia, terdiri dari unsure sistin, yaitu senyawa asam amino yang memiliki unsur sulfida, dalam jumlah persentase yang cukup tinggi. Jembatan disulfida -S-S- dari sistin merupakan salah satu faktor utama yang bertanggung jawab atas berbagai bentuk dari rambut kita. Rambut lurus atau keriting dikarenakan keratin mengandung jembatan disulfida yang memampukan molekul untuk mempertahankan bentuk-bentuk tertentu

TUJUAN

Makalah ini dibuat untuk memenuhi nilai praktikum pelajaran kimfis. Setelah mempelajari makalah ini diharapkan pembaca dapat memiliki dan menguasai pengetahuan dan ketrampilan tentang pengeritingan rambut dasar.

BAB 2 PEMBAHASAN

Prinsip

Protein merupakan komponen utama dalam sel hidup yang memegang peranan penting dalam proses kehidupan. Protein berperan dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Protein pembangun misalnya keratin yang terdapat pada kulit, kuku dan rambut. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan sulfur serta Posfor.

Gambar 1 Struktur Protein

Keratin adalah protein yang tidak reaktif secara kimiawai dan tahan lama secara mekanik, terdapat dalam semua vertebrata tingkat tinggi. Keratin adalah komponen dasar dari lapisan luar epidermal dan anggota badan yang berkaitan seperti rambut, tanduk, kuku dan bulu. Keratin diklasifikasikan sebagai a-keratin yang terdapat dalam mamalia, dan b-keratin yang terdapat dalam burung dan reptil. Studi mikroskopik elektron menunjukkan bahwa rambut, yang tersusun utamanya dari a-keratin, terdiri dari struktur hierarki. Rambut biasanya mempunyai diameter 20mm dan terdiri dari sel mati, dimana tiap-tiapnya mengandung mikrofibril (2000 Amstrong dalam diameter) yang terorientasi secara paralel terhadap serabut rambut.

Makrofibril tersusun dari mikrofibril (80 Amstrong dalam diameter) yang tertumpuk bersama oleh matriks protein amorfus yang kaya akan kandungan sulfur. a-keratin kaya akan residu Cys, yang cross-link secara sejajar dengan ikatan peptida. Hal ini berguna untuk kelarutan dan ketahannya terhadap regangan, dua dari sifat biologis utama suatu a-keratin. a-keratin diklasifikasikan sebagai “keras” atau “lunak” berdasarkan pada apakah kandungan sulfurnya tinggi atau rendah. Keratin keras, seperti rambut, tanduk, dan kuku. Sedangkan keratin lunak, seperti kulit dan tulang belulang, karena ikatan disulfidanya dapat melawan gaya yang cenderung akan mendeformasikannya. Ikatan disulfidanya dipotong, serabut a-keratin dapat diregangkan dua kali panjang dari panjang awalnya dengan memberikan panas lembab. Dalam proses ini, analisis X-ray mengindikasikan bahwa struktur heliks a memanjang dengan pengaturan kembali yang seiring dari ikatan hidrogen untuk membentuk lembaran plat-b. b-keratin, seperti bulu, mempunyai pola X-ray dalam keadaan normalnya.

Gambar 2 Struktur Rambut

Mengeriting rambut merupakan suatu proses rekayasa biokimia. Sebagaimana telah diketahui, keratin merupakan komponen utama yang menyusun hampir seluruh berat kering rambut. α-keratin adalah protein serat utama yang memberikan perlindungan eksternal bagi vertebrata. Secara khas, protein ini mengandung residu sistin. Seperti tersirat pada namanya, struktur α-keratin berupa rantai polipeptida yang membentuk konformasi α-heliks (seperti spiral). Konformasi α-keratin berbeda dengan konformasi β-keratin. Pada β-keratin, strukturnya berbentuk β-sheet, yaitu kerangka rantai polipeptidanya meluas membentuk struktur zig-zag. Selain terdapat pada rambut, α-keratin terdapat pula pada wol, sayap, kuku, cakar, duri, tanduk, sisik, kuku kuda, kulit penyu, dan sebagainya. Sedangkan β-keratin terdapat misalnya pada sutera dan jaring laba-laba. Perbedaan struktur α-heliks dan β-sheet dapat dilihat pada gambar berikut. Perhatikan bahwa pada α-heliks terdapat ikatan hidrogen di dalam rantai (intra), sementara pada β-sheet tidak ada, yang ada adalah ikatan hidrogen antar rantai (ikatan hidrogen ditunjukkan oleh garis putus-putus berwarna merah).

Gambar 3 Struktur Keratin

Pada rambut, sepasang rantai heliks α-keratin saling melilit, kemudian 2 pasang lilitan (protofilament) bergabung membentuk 4 molekul protofibril. Selanjutnya 8 protofibril bergabung membentuk susunan mikrofibril. Susunan seperti ini elastis dan fleksibel. Namun pada jaringan yang berbeda-beda α-keratin mengeras dengan tingkat kekerasan yang berbeda beda, tergantung banyaknya ikatan silang disulfida yang terbentuk.

Gambar 4 Keratin pada Rambut

α-keratin pada rambut dapat diregang hingga hampir 2 kali panjang normalnya jika rambut tersebut diberikan uap panas. Dalam keadaan regang ini, konformasi α-heliks rusak, dan rantai polipeptidanya memanjang dalam konformasi hampir 2 kali panjang α-heliks. Hal ini terjadi karena uap panas merusak ikatan hidrogen yang mempertahankan struktur heliks bersama-sama, sehingga lilitan dibiarkan teregang menjadi konformasi yang lebih panjang (konformasi β). Jika α-keratin yang telah diuapkan dibiarkan mendingin dan gaya regang dilepaskan, protein ini secara spontan akan kembali pada konformasi α-heliks semula. Karena umumnya gugus R pada α-keratin lebih besar daripada gugus R pada β-keratin sehingga tidak cocok untuk konformasi β yang stabil.

Sifat khas α-keratin, demikian pula dengan kandungan jembatan disulfidanya inilah yang merupakan dasar bagi industri keriting rambut. Rambut yang akan dikeriting pertama-tama digulung mengelilingi suatu bentuk yang sesuai. Larutan senyawa pereduksi, biasanya senyawa yang mengandung gugus tiol atau sulfohidril (-SH), lalu diberikan pada rambut dengan pemanasan. Senyawa pereduksi memecah jembatan disulfida dengan mereduksi residu sistin-sistin, satu pada masing-masing rantai. Uap panas memecah ikatan hidrogen dan menyebabkan struktur α-heliks pada rantai polipeptida keratin rambut menjadi terbuka dan meregang. Setelah beberapa lama, larutan pereduksi diangkat, dan suatu pengoksidasi ditambahkan untuk memantapkan ikatan disulfida yang baru diantara pasangan residu sistein pada rantai polipeptida yang berdampingan (namun bukan pasangan yang sama seperti sebelumnya). Dengan pencucian dan pendinginan rambut, rantai polipeptida berubah menjadi konformasi α-heliks. Serat rambut sekarang menjadi keriting sesuai model yang diinginkan, karena jembatan disulfida yang baru terbentuk menimbulkan belokan/keriting pada untaian lilitan α-heliks pada serat rambut.

Ilustrasi tahap-tahapnya yaitu sebagai berikut :

Gambar 5 Proses Pengeritingan Rambut

Obat pengeriting rambut mengandung Ammonium Thioglycolate. Waving lotion (Amonium thioglycolate / tio ) bersifat alkalis , dapat menimbuklan luka di kulit kepala dan jari ( iritasi ), Amonium thioglycolate ( tidak boleh bercampur dengan Normalizes /neutralizer (H202), bila tercampur akan terjadi panas, dapat menyebabkan rambut bercabang, kemerahan, rapuh.

Gambar 6 Struktur Ammonium Thioglycolate

Amonium thioglycolate, juga dikenal sebagai perm garam, adalah senyawa kimia dengan rumus HSCH2CO2NH4. Garam ini terbentuk dari asam karboksilat asam thioglycolic (HSCH2CO2H) dan ammonia.

HSCH2COO + NH4 + HSCH2COOH + NH3

Asam thioglycolate dikembangkan pada tahun 1940-an digunakan sebagai obat untuk merontokkan rambut yang tidak dikehendaki untuk tumbuh dan masih digunakan sampai sekarang terutama dalam bentuk garamnya yaitu ammonium thioglycolate. Ammonium thioglycolate digunakan dalam proses pengeritingan rambut. Asam thioglycolate atau biasa disingkat TGA dapat mematahkan ikatan disulfide pada rambut. Zat ini bekerja pada Ph 9-9.5 dengan tidak terlalu merusak rambut. Zat ini terdapat dalam bentuk krim atau gel, obat ini dapat dibeli dalam kemasan kaleng dengan berat tiap kalengnya 37.5 kg. Sebelum digunakan didahului dengan menggunakan obat pelembut.

Ammonium thioglycolate lebih baik dibandingkan dengan sodium hidroksida ataupun guanidine hidroksida. Sodium hidroksida adalah zat yang paling kuat daripada ammonium glycolate dan guanidine hidroksida. Sodium hidroksida kaustik adalah jenis bahan kimia yang benar-benar melembutkan serat rambut namun bahan kimia ini juga menyebabkan rambut membengkak pada waktu yang sama, tergantung dari berbagai faktor dan kondisi rambut yang akan diluruskan. Kekuatan larutan natrium hidroksida dapat bervariasi mulai dari 5 sampai 10 persen dengan pH yang bervariasi dari Ph 10-14. Semakin tinggi kekuatan natrium hidroksida dengan pH yang semakin tinggi maka semakin cepat zat ini dalam meluruskan rambut. Namun disisi lain, semakin besar pula potensi rambut akan rusak. Diperlukan perawatan khusus sebelum menggunakan bahan kimia ini.

Guanidine hidroksida cenderung kurang merusak rambut bila dibandingkan dengan natrium hidroksida. Produk-produk ini, masih dapat menyebabkan kerusakan pada rambut yaitu menimbulkan lemak pada kulit kepala. Guanidine hidroksida biasanya membutuhkan perawatan pengkondisian sebelum dan sesudah penggunaannya. Bahan kimia ini adalah campuran krim dengan kalsium hidroksida karbonat guanidine.

Proses Pengeritingan Rambut

Untuk mendapatkan hasil sempurna, dibutuhkan pengeritingan profesional. Tak perlu khawatir rambut akan jadi kering dan rusak akibat zat kimia obat keriting. Kini, pengeritingan dapat dilakukan dengan cara yang lebih aman dan sehat, misalnya teknologi baru pengeritingan rambut air wave, yaitu pengeritingan rambut yang menggunakan temperatur panas dan kelembapan udara dengan mesin canggih. Dengan memasukkan data yang diinginkan pada komputer, besar dan kecilnya ukuran ikal bisa dibentuk, dan dengan mudah dapat diatur. Bukan hanya itu, hasilnya juga beda dari alat pengeriting biasa. Rambut ikal terasa lebih lembut, halus, dan lentur. Jika daya atau tegangan konverter adaptor dual watt adalah konverter, perlu untuk mengubah pengaturan untuk rendah atau tinggi. Pengaturan rendah (0-25 watt) digunakan dengan alat cukur elektronik, radio, dan alat pengeriting rambut. Pengaturan tinggi (125-1875 watt) digunakan dengan pengering rambut, setrika, kapal uap, dan item lainnya.

Sebelum melakukan pengeritingan rambut dasar, ada langkah awal yang harus ditempuh, yaitu menganalisa jenis kulit kepala dan rambut, tujuannya untuk menentukan bahan pengeritingan rambut yang sesuai agar dalam melakukan pengeritingan rambut dasar tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang dapat merusak rambut. Untuk dapat melakukan kegiatan tersebut maka perlu dipelajari mengenai:

  1. Jenis Kulit Kepala Dan Rambut

a. Jenis kulit kepala

Secara garis besar jenis kulit kepala ada dua macam, yaitu:

· Kulit kepala normal

· Kulit kepala kering

· Kulit kepala berminyak

b. Jenis rambut

Adapun jenis rambut ada 3 macam, yaitu:

· Rambut normal

· Rambut kering

· Rambut berminyak

c. Kelainan kulit kepala dan rambut

Sebagai bahan referensi dalam menganalisa kulit kepala dan rambut, maka kelainan kulit kepala dan rambut perlu dipelajari juga. Adapun beberapa kelaian kulit kepala yang sering terjadi adalah sebagai berikut:

· Kulit kepala berketombe

· Kebotakan (alopecia)

· Kurap (Tinea Capitis)

· Ujung rambut terbelah ( Trichopilosis )

· Rambut mudah patah ( Tricholocasia )

· Alergi

  1. Ciri Ciri Kulit Kepala Dan Rambut

a. Ciri-ciri kulit kepala

1) Ciri-ciri kulit kepala normal, adalah sebagai berikut:

· Kulit kepala kelihatan bersih

· Tidak berminyak

· Tidak bersisik

· Tidak kering

2) Ciri-ciri kulit kepala kering:

· Kulit kepala kelihatan kering

· Kulit kepala terlihat kusam

· Kulit kepala bersisik

3) Ciri-ciri kulit kepala berminyak, adalah:

· Kandungan minyak yang berlebihan di kulit kepala

· Kulit kepala selalu kelihatan basah dan lengket

· Kulit kepala mudah kotor dan biasanya kotoran melekat pada kulit kepala.

b. Ciri-ciri jenis rambut

Tiap jenis rambut memiliki ciri-ciri rambut yang berbeda.

1) Ciri-ciri rambut normal adalah:

· Rambut kelihatan bercahaya, segar dan sehat

· Pertumbuhan rambut normal

· Bersifat higroskopis dengan elastisitas baik

· Rambut tidak mudah patah atau rusak

2) Ciri-ciri rambut kering adalah:

· Warna rambut merah, kusam, bila dipegang berbunyi gemerisik.

· Rambut mudah patah, rontok, dan elastisitas rambut kurang

· Pertumbuhan rambut jarang (tipis).

· Biasanya pada ujung rambut pecah atau bercabang.

3) Ciri-ciri rambut berminyak adalah:

· Pertumbuhan rambut lebat.

· Rambut kelihatan mengkilap, basah dan cepat kotor.

· Sifat higroskopis rendah, elastisitas rambut tinggi, dan tidak mudah patah.

· Adanya kadar lemak yang tinggi pada rambut

· Jika terdapat ketombe, ketombe basah dan melekat pada kulit kepala

c. Ciri-Ciri kelainan kulit kepala dan rambut

1) Ciri-ciri kulit kepala berketombe

· Selalu kelihatan kotor serta tidak rapi.

· Terdapat sisik-sisik putih yang melekat di kulit kepala dan dapat mengotori rambut.

· Ada rasa gatal di kulit kepala.

2) Ciri-ciri kulit kepala yang mengalami kebotakan (alopecia):

· Kerontokan rambut yang berlebihan

· Kulit kepala yang telah rontok rambutnya kadang kadang tampak halus dan tidak berpori.

3) Ciri-ciri kurap (tinea capitis)

Kelainan ini terjadi karena infeksi jamur, adapun cirinya adalah sebagai berikut:

· Rambut mudah patah pada batas antara akar dan batang rambut.

· Kulit kepala bintik-bintik, bersisik, kotor dan terdapat ujung patahan

4) Ciri-ciri ujung rambut terbelah ( trichopilosis )

Kelainan rambut ini terjadi karena kurang gizi, akibat suhu panas, rangsangan bahan kimia. Cirinya adalah:

· Ujung rambut terbelah

· Rambut terlihat kusam

5) Ciri-ciri rambut mudah patah ( tricholocasia )

Kelainan ini terjadi karena zat tanduk mengalami kemunduran kualitas, adapun ciri dari kelainan ini adalah rambut mudah patah dan rambut kusam.

6) Ciri-ciri alergi yang diakibatkan bahan kimia adalah sebagai berikut:

· Pada alergi ringan terjadi gatal-gatal dikulit kepala

· Pada alergi berat timbul pembengkakan disertai kemerah-merahan, rasa gatal yang hebat, timbul bintik-bintik dan gelembung-gelembung disusul pengelupasan kulit.

  1. Analisis kulit kepala dan rambut

Langkah yang sangat penting sebelum melakukan pencucian rambut adalah meneliti dan menganalisa kondisi kulit kepala dan rambut klien. Untuk dapat menganalisa kulit kepala dan rambut harus mempelajari tentang :

  1. Keadaan kulit kepala dan rambut

Jenis kulit kepala dan rambut harus diperiksa dengan sangat teliti, bagaimana jenis kulit kepala, dan bagaimana jenis rambutnya. Selain itu perlu diperhatikan juga apakah ada kelainan-kelainan di kulit kepala sebelum dilakukan pengeritingan rambut.

  1. Pori-pori rambut

Pori-pori rambut dapat menyebabkan rambut dapat menyerap barang cair. Barang cair yang terserap dapat mengubah beberapa dari sifat rambut, maka analisa harus dibuat pada waktu rambut dalam keadaan kering. Jika dianalisa pori-pori dapat menjadi ukuran untuk menentukan bahan kosmetik yang akan digunakan. Jenis pori-pori rambut yaitu:

· Pori-pori baik, yaitu pori-pori yang dapat menyerap kelembaban atau bahan-bahan kimia dalam waktu yang merata.

· Pori-pori sedang (normal), adalah berpori lebih sedikit dibanding berpori baik.

· Pori-pori kelebihan (extreme porosity), memiliki pori-pori yang berlebihan sehingga menyerap cairan sangat cepat.

Pengaruh pori-pori rambut dalam proses pengeritingan adalah proses pengeritingan, semakin berpori rambut itu maka akan semakin cepat menyerap waving lotion dan semakin cepat waktu yang diperlukan untuk proses pengeritingan.

  1. Kepegasan/elastisitas rambut

Kepegasan/elastisitas rambut adalah kemampuan rambut untuk merentang dan mengejut. Semua rambut itu bersifat pegas, akan tetapi kepegasan rambut berbeda-beda mulai dari kepegasan rambut yang baik sekali, kepegasan rambut baik, kepegasan rambut sedikit dan kepegasan rambut jelek.

Cara mengetes kepegasan rambut adalah sebagai berikut: ambilah sedikit rambut kering dan pegang antara ibu jari dan telunjuk dari tiap-tiap tangan, perlahan-lahan rentangkan diantara kedua tangan tersebut, makin panjang rambut itu dapat direntangkan dengan tidak putus makin besar kepegasan rambut itu. Jika kepegasannya baik rambut itu perlahan-lahan akan kembali setelah direntangkan. Rambut yang dengan kepegasan jelek akan segera putus jika direntangkan.

Rambut yang normal dapat direntangkan kira-kira seperlima dari panjangnya rambut dan akan mental kembali jika dilepas. Tetapi rambut yang basah dapat direntangkan antara 40 % hingga 50% dari panjangnya rambut.Semakin elastis rambut maka akan semakin baik hasil keritingnya.

  1. Sruktur Rambut

Untuk dapat menentukan dan melayani klien dengan tepat maka perlu dipelajari mengenai struktur rambut. Bagian-bagian dari rambut terdiri dari batang rambut, yaitu bagian dari rambut yang tumbuh di atas kepala, dan akar rambut, yaitu bagian dari rambut yang tumbuh di bawah kulit kepala.

1) Batang Rambut

Batang rambut mempunyai tiga lapisan sel, yaitu:

· Cuticula, yaitu lapisan yang berada di bagian paling luar atau merupakan suatu lapisan pelindung yang tersusun seperti gunting, yang berfungsi sebagai pelindung bagian dalam rambut.

· Cortex, yaitu bagian rambut yang terbesar, serta merupakan suatu lapisan di bawah kutikula dimana terdapat banyak penyimpanan obat yang sangat diperlukan oleh rambut.

· Medula, yaitu bagian dari rambut yang letaknya paling dalam.

2) Akar Rambut

Akar rambut sangat berperan menentukan besar dan bentuk rambut. Di dalam akar rambut terbentuk zat-zat yang sangat berguna bagi rambut, yaitu zat tanduk, zat warna, zat lemak serta zat-zat lain yang dibutuhkan oleh rambut.

· Bentuk sel rambut, ialah bulat pada rambut yang tumbuhnya lurus, bulat telur pada rambut yang tumbuhnya berombak, dan pipih pada rambut yang tumbuhnya keriting.

· Jenis rambut, ada tiga yaitu: rambut normal, rambut kering dan rambut berminyak.

· Follicle, ialah sebuah saluran di mana rambut tumbuh dan keluar dari dalam lapisan kulit. Follicle ini merupakan saluran yang tetap dan terbentang dari bull didalam dermis sampai epidermis.

· Papila, adalah sebuah sudut kecil yang terdapat didalam dasar follicle, dimana pada papila ini diproduksi sel-sel rambut.

· Kelenjar Keringat, yaitu sebuah pembuluh kecil yang terdapat di dalam dermis, terbentang sampai ke epidermis. Fungsi kelenjar keringat ini mengatur suhu badan dengan jalan memberikan uap air secara terus menerus.

· Kelenjar minyak, merupakan kantong kelenjar di dalam dermis yang berfungsi menghasilkan minyak untuyk menjaga kulit dan rambut supaya lunak dan hidup, sehingga rambut akan dapat dengan mudah disisir atau dibentuk.

· Muscle, merupakan sebuah garis kecil yang menghubungkan follicle dengan kulit. Urat ini akan bekerja pada udara yang dingin, yang menyebabkan pembuluh mengecil. Dengan mengecilnya pembuluh, berarti kulit menjadi mengkerut dan menekan kelenjar minyak, sehingga minyak akan keluar dan membasahi rambut. Dengan demikian maka suhu badan tetap hangat pada cuaca dingin.

  1. Bentuk rambut.

Pada dasarnya bentuk rambut ada 3 macam, yaitu:

· Bentuk rambut lurus, biasanya untuk rambut ini penampang rambutnya berbentuk bulat.

· Bentuk rambut berombak, penampang rambut berbentuk oval.

· Bentuk rambut keriting, bentuk penampang rambut akan terlihat rata.

Sedangkan rambut keriting ada dua macam, yaitu keriting asli dan keriting buatan. Bentuk rambut perlu dipelajari untuk menentukan apakah rambut bisa dikeriting atau tidak.

  1. Kepanjangan rambut.

Kepanjangan rambut dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:

· Rambut pendek.

· Rambut setengah panjang.

· Rambut panjang.

Kepanjangan rambut berkaitan dengan penentuan besar kecilnya roto yang akan digunakan dalam proses pengeritingan. Bentuk dan ukuran roto dapat dilihat pada

  1. Densitas rambut.

Densitas rambut adalah ketebalan rambut yang tumbuh dikulit kepala. Ketebalan rambut seseorang akan berbeda dengan yang lainnya. Secara umum densitas rambut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

· Rambut tebal

· Rambut normal/sedang

· Rambut tipis

Densitas rambut yang normal adalah 1000 helai per inchi. Dalam hal pengeritingan rambut densitas rambut akan berpengaruh pada besar kecilnya roto yang digunakan.

Gambar 7 Bentuk Dan Ukuran Roto

  1. Diameter Rambut

Diameter rambut berkaitan dengan besar kecilnya batang rambut. Adapun secara garis besar diameter rambut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

· Diameter besar (kasar)

· Diameter sedang (sedang)

· Diameter kecil (halus)

Besar kecilnya diameter rambut akan berpengaruh pada penyerapan solution. Rambut yang yang berdiameter besar lebih cepat menyerap solution dan semakin kecil diameter rambut akan semakin lama penyerapan solution. Semakin cepat menyerap solution, maka semakin cepat keriting jadi.

  1. Porositas rambut

Porositas rambut adalah kemampuan rambut menyerap zat cair. Tingkat porusitas rambut ada tiga, yaitu porus, normal dan resisten. Tingkat poositas akan berpengaruh pada kecepatan penyerapan solution keriting. Semakin porus semakin singkat waktu olahnya dan semakin encer solution keriting yang digunakan.

  1. Hasil Ikal

Hasil ikal dalam pengeritingan ada tiga macam, yaitu: Ikal besar, ikal sedang dan ikal kecil. Macam ikal yang diharapkan menentukan roto yang digunakan. Jika ingin hasil ikal besar gunakan roto besar, jika ingin ikal sedang gunakan roto sedang dan gunakan roto kecil untuk hasil ikal kecil.

  1. Jumlah Roto

Jumlah roto yang digunakan dalam pengeritingan rambut ditentukan oleh densitas rambut, dan kepanjangan rambut. Semakin tebal dan semakin panjang rambut akan membutuhkan roto semakin banyak juga.

  1. Solution dan Netralizer

Jenis solution dan netralizer yang digunakan tergantung pada kondisi rambut antara lain: jenis rambut, porositas rambut dan diameter rambut. Sedangkan jumlah solution dan netralizer yang digunakan tergantung pada panjang pendeknya rambut serta densitas rambut.

  1. Penggunaan zat pengkondisi

Fungsi zat pengkondisi adalah untuk memberikan stabilitas porositas pada batang rambut. Zat pengkondisi mengandung lanolin, protein, dan kolestral serta bersifat asam.Macam kosmetik pengkondisi adalah sebagai berikut:

1. Preconditioner, yang digunakan sebelum melakukan pengeritingan rambut bagi rambut yang porus. Fungsinya melindungi batang rambutyang terlalu porus agar rambut tidak semakin porus setelah dikeriting.

2. Conditioner, digunakan setelah proses pengeritingan, fungsinya untuk mengembalikan minyak alami rambut yang banyak terbuang pada saat proses pengeritingan rambut.

4. Melakukan Tes Skin

Tes skin adalah pengetesan kulit terhadap kosmetika pengeritingan rambut yang digunakan, untuk memastikan apakah kosmetika yang akan digunakan tidak membahayakan klien, karena sensitifitas antara klien satu dengan lainnya akan berbeda-beda.

5. Menentukan kosmetik pengeritingan

Setelah melalui tahap diagnosa dan tes skin selesai maka dapat ditentukan kosmetik pengeritingan sesuai dengan kondisi kulit dan rambut klien dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan tes skin. Sehingga kosmetik yang ditentukan benar-benar sesuai dan aman bagi klien.

Cara mendiagnosa kulit kepala dan rambut dalam proses pengeritingan rambut dasar adalah sebagai berikut:

· Memasang handuk pada bahu klien

· Menyikat dan menyisir rambut klien

· Memeriksa keadaan kulit kepala dan rambut, yaitu:

a) Memeriksa jenis kulit kepala

b) Memeriksa jenis rambut

c) Memeriksa Pori-pori rambut.

d) Kepegasan/Elastisitas rambut.

e) Struktur rambut

f) Bentuk rambut.

g) Kepanjangan rambut.

h) Densitas rambut.

i) Diameter rambut.

j) Porusitas rambut

k) Menentukan Hasil Ikal

l) Menentukan Jumlah Roto

m) Menentukan Solution dan Netralizer

n) Menentukan penggunaan zat pengkondisi

o) Menentukan kosmetik yang digunakan

PENCUCIAN RAMBUT UNTUK PENGERITINGAN

Dalam proses pengeritingan rambut, pencucian rambut yang dilakukan adalah pencucian rambut dengan shampoo basah.

1. Pencucian Rambut Tanpa Pengkondisian

Yang dimaksud dengan pencucian rambut tanpa pengkondisian adalah pencucian rambut dengan shampoo basah tetapi tidak melakukan pemberian conditioner untuk rambut.

2. Mencuci Macam-Macam Jenis Rambut Dengan Shampo Basah

Yang dimaksud mencuci macam-macam jenis rambut dengan shampoo basah di sini adalah melakukan proses pencucian rambut dengan shampoo basah, yang dilakukan pada bermacam-macam jenis rambut. Teknik mencuci rambut sama, akan tetapi penetapan kosmetika pencucian rambut yang berbeda, tergantung dengan jenis rambutnya.

3.Pembilasan

Pembilasan dilakukan pada pencucian rambut dengan shampoo secara basah, untuk menghilangkan semua bahan kosmetik dalam hal ini shampoo agar busa shampoo benar-benar hilang dan bersih. Jadi tujuan pembilasan adalah membersihkan busa dari rambut dan kulit kepala.

4. Penyisiran

Penyisiran ini dilakukan setelah proses pencucian rambut dengan shampoo basah, sebelum mendapat perlakuan lain. Dalam hal ini penyisiran dilakukan untuk disiapkan ke proses pengeritingan rambut.

PENGERITINGAN RAMBUT DASAR

1. Mengeriting rambut

a. Pengertian

Yang dimaksud dengan mengeriting rambut adalah suatu tindakan mengubah rambut lurus menjadi rambut bergelombang/keriting dengan cara menggulung rambut, memberi solution, dan menetralisir sehingga diperoleh keriting yang diinginkan.

b. Metode mengeriting rambut

Pada dasarnya ada dua metode mengeriting rambut, yaitu:

1. Metode mengeriting panas

Metode mengeriting panas daspat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

· Permanen spiral, yaitu menggulung rambut dari pangkal menuju ke ujung, biasanya dikerjakan pada rambut panjang.

· Croquinole, yaitu penggulungan rambut dari ujung menuju ke pangkal, untuk pengeritingan rambut pendek.

· Prexted, yaitu sama dengan croquinole tetapi sebelum dan selama pemakaian penggulung rambut dipanaskan.

· Tanpa mesin, yaitu cara mengeriting dengan menggunakan panas dari bahan kimia. Metode ini merupakan peralihan pengeritingan panas ke pengeritingan dingin.

2. Metode mengeriting dingin

Yang dimaksud mengeriting dingin adalah mengeriting berdasarkan proses kimia dibantu dengan tindakan fisik. Metode ini pertama kali dikenalkan di California yang sampai saat ini masih diakui di seluruh dunia.

c. Prinsip dasar mengeriting rambut

Prinsip-prinsip dasar mengeriting terdiri atas beberapa proses kimia, dapat dijelaskan sebagai berikut:

· Batang rambut terdiri atas ikatan-ikatan hidrogen dan ikatan disulfide (ikatan belerang). Jika rambut lurus diberi solution, maka keratin rambut menjadi lunak dan ikatan-ikatan molekulnya menjadi labil

· Pada kondisi ikatan molekul disulfida yang labil, dengan penggunaan solution dan penggulungan dengan roto menyebabkan pematahan ikatan hidrogen

· Pada saat ikatan rambut dipatahkan, kondisi molekul disulfida masih labil, selanjutnya diberikan netralizer untuk menstabilkan dan menguatkan

· Ikatan molekul disulfida maupun hidrogen yang terpatahkan tidak dapat tersambung semua secara sempurna hanya dengan netralisir, oleh sebab itu perlu zat pengkondisi agar minyak alami rambut yang terbuang pada saat proses pengeritingan dapat kembali, yaitu dengan memberikan conditioner pada pembilasan terakhir

d. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pengeritingan Rambut

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengeritingan rambut, antara lain adalah:

1) Kondisi rambut yang mempengaruhi pengeritingan adalah jenis rambut, bentuk rambut, diameter, porositas, densitas dan elastisitas.

2) Blocking, tebalnya harus sama denga diameter roto, panjang blocking ½ inchi lebih pendek dari panjang roto.

3) Roto, pemilihan ukuran roto sangat penting karena ukuran roto akan berpengaruh pada hasil ikalnya.Roto lurus menghasilkan ikal yang sama besar sepanjang rambut, roto cekung menghasilkan ikal yang bagian ujung rambut lebih kecil dari pada bagian pangkal.

4) Waktu olah dalam proses pengeritingan juga berpengaruh terhadap hasil pengeritingan, waktu olah yang berlebihan menyebabkan hasil pengeritingan tidak bagus dan rambut rusak, dan waktu olah yang kurang menyebabkan hasil pengeritingan kurang baik dan tidak ada ikal

5) Penentuan waktu pengeritingan akan sangat dipengaruhi oleh tekstur rambut, porositas rambut, kekuatan solution, temperatur ruang atau tubuh manusia. Baik tidaknya penggulungan rambut dan cukup tidaknya pemakaian solution.

e. Membagi rambut/Parting

Untuk pengeritingan dasar rambut dibagi menjadi sembilan bagian

Gambar 8. Parting rambut dari samping, belakang dan depan (Muntami, 2001)

f. Membloking rambut

Memblocking yaitu membagi daerah kepala menjadi daerah panel kerja yang seragam. Blocking juga dikenal sebagai subsectioning, dibagi-bagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dalam panel-panel. Tebalnya blocking sama dengan diameter roto yang digunakan, panjang blocking ½ inchi lebih pendek dari panjang roto, tetapi tidak boleh lebih panjang dari panjangnya tali., rambut yang lebat membutuhkan blocking yang kecil, dan tali yang lebih besar.Rambut yang tipis memerlukan blocking yang lebih kecil dan tali yang kecil juga.Besarnya tali dan blocking akan menentukan hasil ikal.

Gambar 9 Ketebalan blocking (Muntami, 2001)

Gambar 10 Pola Blocking

g. Menentukan Roto sesuai dengan bloking

Bentuk roto dan ukuran roto bermacam-macam, bentuk dan ukuran roto akan memberikan efek ikal yang berbeda-beda, maka pemilihan ukuran roto sangat penting. Roto lurus menghasilkan ikal yang sama besar sepanjang rambut,roto cekung menghasilkan ikal yang bagian ujung rambut lebih kecil dari pada bagian pangkal.

h. Teknik menggulung rambut

Ada tiga cara pemakaian ujung-ujung kertas yang digunakan dalam menggulung rambut pada proses pengeritingan, ketiga cara ini kalau digunakan secara benar sama efektifnya, tiga cara tersebut adalah:

· Gulungan dengan ujung kertas buku.

· Gulungan ujung kertas tidak rangkap.

· Gulungan dengan ujung kertas rangkap.

Cara menggulung rambut adalah sebagai berikut:

1) Rambut disisir kebawah hingga lurus.

2) Ujung rambut yang telah disisir, dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengah. Jepit dan letakkan ujung kertas di atas ujung rambut membentuk sebuah amplop.

3) Pegang ujung rambut dengan hati-hati dan rata

4) Pasanglah roto dengan tangan kanan.

5) Letakkan roto di bawah ujung lipatan kertas sejajar dengan belahan rambut, tarik ujung kertas dan roto ke arah ujung-ujung, dan mulailah menggulung roto ke arah kulit kepala. Gulunglah rambut itu dengan lembut dan hindari gulungan yang terlalu besar pada roto, karena gulungan yang terlalu besar akan membuat bentuk ikal menjadi tidak baik

6) Ikatkan tali roto dengan rata dari ujung ke ujung, untuk mencegah kerusakan, sebaiknya tali jangan dipotong ke dalam rambut ataupun dipilin melawan curl.

Gambar 11 Langkah menggulung

Sedangkan cara menggulung dengan ujung kertas tidak rangkap langkah-langkahnya dapat dilihat pada gambar 3.5, Sedangkan cara menggulung dengan ujung kertas rangkap.

Gambar 12 Menggulung Dengan Ujung Kertas Tidak Rangkap

Gambar 13 Menggulung Dengan Ujung Kertas Rangkap

i. Teknik mengaplikasikan kosmetik pengeritingan rambut

Perlu diketahui bahwa kosmetika pengeritingan rambut meliputi: solution, netralizer dan kosmetik pengkondisi.

Solution adalah larutan asam tiaglikolat dan amonia yang disebut larutan Thio bersifat basa dan dapat mengubah struktur rambut secara permanen. Jenis solution berdasarkan pH nya adalah sebagai berikut:

1) Solution dengan pH 9,4 – 9,6 (solution sedang) untuk rambut normal.

2) Solution dengan pH di atas 9,6 (solution kuat) untuk rambut resisten/porusitas buruk atau rambut yang elastisitasnya tinggi.

3) Solution dengan pH di bawah 9,4 (solution lembut) untuk rambut yang porus dan elastisitasnya tinggi (baik).

4) Teknik mengaplikasikan solution ada dua macam, yaitu:

· Direct/fremoistering, yaitu pemberian solution secara langsung pada tiap blocking rambut yang akan digulung. Untuk teknik ini solution perlu dicampur dengan aquadest dengan perbandingan 1:1. Langkah-langkah mengaplikasikan solution dengan teknik direct adalah sebagai berikut: Basahi rambut dengan solution menggunakan botol aplikator ke seluruh bagian dalam satu waktu. Mulailah ½ inchi dari kulit kepala sampai 1 inchi dari ujung rambut.

· Undirect, yaitu pemberian solution setelah rambut digulung seluruhnya dengan roto.

5) Penentuan waktu pengeritingan

Waktu pengeritingan adalah waktu yang dibutuhkan oleh rambut mulai penyerapan kosmetik sampai terjadinya perubahan bentuk rambut. Waktu pengeritingan sangat tergantung pada: Tekstur rambut, porositas rambut, kekuatan solution, temperatur ruang atau suhu badan manusia, cukup tidaknya pemakaian solution, serta baik tidaknya penggulungan rambut.

6) Mengetes hasil pengeritingan

Mengetes hasil pengeritingan sebaiknya dilakukan tiap 10 menit sekali. Bila sudah terlihat huruf S pada setiap penggulungan maka pengeritingan pun telah terjadi. Pada waktu membuka gulungan rambut untuk mengecek hasil pengeritingan rambut tidak boleh ditarik. Jika waktu sudah cukup belum terjadi pengeritingan maka perlu ditambah dengan solution lagi.

Gambar 14 Teknik direct

Gambar 15 Teknik undirect

7). Penentuan waktu pengeritingan

Waktu pengeritingan adalah waktu yang dibutuhkan oleh rambut mulai penyerapan kosmetik sampai terjadinya perubahan bentuk rambut. Waktu pengeritingan sangat tergantung pada: Tekstur rambut, porositas rambut, kekuatan solution, temperatur ruang atau suhu badan manusia, cukup tidaknya pemakaian solution, serta baik tidaknya penggulungan rambut.

8) Mengetes hasil pengeritingan

Mengetes hasil pengeritingan sebaiknya dilakukan tiap 10 menit sekali. Bila sudah terlihat huruf S pada setiap penggulungan maka pengeritingan pun telah terjadi. Pada waktu membuka gulungan rambut untuk mengecek hasil pengeritingan rambut tidak boleh ditarik. Jika waktu sudah cukup belum terjadi pengeritingan maka perlu ditambah dengan solution lagi.

9) Pembilasan dengan air hangat

Jika hasil pengecekan pengeritingan telah terjadi, maka bilas dengan air hangat sampai bersih, pastikan tidak ada solution yang tertinggal, jika tidak bersih rambut akan rusak/merah ketika diberi netralizer.

10) Penetralisiran

Pemberian netralizer juga harus merata karena jika tidak rata rambut yang sudah terbentuk akan menjadi los waktu rambut dicuci.

11) Pembilasan air hangat dan air dingin

Pada pembilasan ini bertujuan membersihkan netralizer, bilas dengan bersih dan berikan conditioner.

Tahap Pengeritingan dengan Air Wave

1. Setelah dicuci, rambut digunting dengan teknik layer, gunting rambut agar teksturnya terlihat. Rambut lalu digulung dengan rol khusus mesin air wave. Gulungan bisa bervariasi sesuai model rambut

2. Setelah rambut tergulung sempurna, rambut diolesi obat pengeriting yang memiliki pH rendah. Keistimewaannya, obat ini aman bagi semua jenis rambut bahkan yang rusak sekalipun, karena tidak akan membuat rambut rapuh.

3. Selanjutnya adalah creeping process. Di sini pengeritingan rambut dilakukan oleh mesin dengan memanfaatkan kelembapan udara yang temperatur dan durasinya diatur secara komputerisasi dan bisa disesuaikan dengan kondisi rambut. Proses memakan waktu sekitar 15-20 menit. Selama pengeritingan berlangsung, setiap helai rambut juga sekaligus me-nerima nutrisi dan dilembapkan.

4. Proses akhir adalah glass transition, yang tujuannya untuk memantapkan keikalan rambut. Sisa obat pengeriting diisap keluar dengan tekanan udara melalui selang yang tersambung pada tiap gulungan rambut di dalam mesin. Selama proses ini, struktur rambut diperbaiki sehingga rambut yang dikeriting jadi sehat dan hasil ikalnya lebih tahan lama.

Macam – macam Alat Pengkeriting Rambut :

Gambar 16 Pengkeriting Rambut Type 5480CIH

BaByliss Ionic Ceramic 2000W – Dryer Perpaduan Teknologi Ion dan Keramik Pengering Rambut BaByliss baru yang mengatur rambut Anda dengan lembut

• Ion negatif yang menetralisir ion positif agar rambut lebih berkilau • Pemanas Keramik untuk penataan lembut dan cepat • 3 pengatur pemanasan dan 2 pengatur kecepatan • Tombol “cool shot” agar tatanan rambut tahan lama • “Diffuser” menyebarkan panas untuk menambah volume rambut

Gambar 17 Alat Pengkeriting Rambut Type 2362CH

BaByliss 24mm Ceramic LCD Curling Iron

Menata rambut anda dengan mudah sekaligus merawatnya

• Besi pengeriting 24mm untuk keriting alami

• Lapisan keramik untuk pemanasan lebih lama dan merata

• Display suhu digital

• Komponen pemanas canggih untuk pemanasan langsung

• Suhu 100º C – 200º C

Gambar 18 Alat Pengkeriting Rambut Type 2701CE

BaByliss Multi-functional Airstyler

Sikat rambut berbahan keramik termal untuk pengeritingan sempurna

• 1000 Watt

• 3 kecepatan / pengatur suhu

• Posisi “Cool Air”

• 3 alat tambahan

– sikat pengeriting 19mm

– sikat berbahan keramik termal 32mm

– nozzle dengan beberapa lubang

• Filter yang dapat diganti

• Kabel panjang

• Tas cantik

Contoh Alat Pelurus/Pengeriting Rambut

Gambar 19 Alat Pengkeriting Rambut Type 2025CE

BaByliss Ceramic Hair Straightener and Styler

Pelat keramik lebih tipis untuk mengangkat akar, meluruskan atau menata rambut anda

• Plat berlapis keramik

• Gagang berlapis beludru anti panas

• Berlampu indikator

• Tombol on/off

BAB 3 PENUTUP

SIMPULAN

Berdasarkan data dari sumber yang diperoleh rambut mengandung keratin dan proses pengeritingan rambut berdasarkan reaksi reduksi oleh panas.

SARAN

Lakukan pengeritingan rambut disertai dengan perawatannya yang maksimum, serta pemilihan serum pengeritingan disesuaikan dengan kondisi rambut.

DAFTAR PUTAKA

Andrean Johnny. 1988. Depth Basic Course, Sekolah Rambut dan Make Up. Jakarta: Johnny Andrean

Dewi Kusuma, dkk. 1999. Pelajaran Tata Kecantikan Rambut Tingkat Dasar. Jakarta: Yayasan Insani

Dewi Kusuma, dkk. 1999. Pengetahuan dan Seni Tata Rambut Modern. Jakarta: Yayasan Insani

Euisry. 2007. Mengeriting Rambut Sebuah Tinjauan Aspek Biokimia. (terhubung berkala) blog.multiply.com. (20 Des 09).

Hadi Suwarno Rudy dan Grace Soebekti. 1993. Pengeritingan .Jakarta: Lembaga Pengajaran Rudy Hadisuwarno

http://autoaccindo.com/babyliss/pelurus.htm (23/12/09)

http://www.feminaonline.com/fashion_beauty/fashion_beauty_detail.asp?id=290&cid=2&views=323 (23/12/09)

http://www.searchgrid.org/index.php?lang=id&cat=439&month=2009-09&id=9468 (23/12/09)

Impras7. 2009. Protein. (terhubung berkala). Blog.wordprress.com (20 Des 09)

Lehninger, A. L. 1988. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I, Erlangga, Jakarta

Matthew, Biochemistry (e-book version)

Mirza. 2009. Protein Pada Kulit dan Rambut Buat Juleq, (terhubung berkala). Mirza.blogspot.com (20 Des 09).

Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Kejuruan. 1997. Pengeritingan Dasar. Jakarta : P3G

R.M Langkir Notoadhisuryo. 2009. Konsep Pengeritingan. (terhubung berkala).

Tim FT Unesa. 2001. Pengeritingan Rambut Dasar. Depdiknas: Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan SMK



HPLC VS GC
Februari 16, 2010, 2:02 pm
Filed under: kimia chemical chemistry

  1. HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

Merek : SHIMADZU

    1. Hubungkan sumber ke arus listrik.
    2. Siapkan kebutuhan analisis (larutan fase gerak, larutan baku, larutan sample, alat-alat gelas,dll). Lakukan sonikasi larutan fase gerak dan sample.
    3. Celupkan suction filter selang A,B,C dan D kebotol larutan masing-masing fase gerak.
    4. Pastikan kolom telah terpasang.
    5. Hidupkan SPD-20A.
    6. Hidupkan LC-20AD.
    7. Hidupkan PC dan printer.
    8. Pada menu utama windows pilih program LC Solution
    9. Pada menu Real Time Analysis klik new untuk membuat metode baru.
    10. Atur parameter instrument dengan mengklik instrument parameters.
    11. Isi parameter-parameter instrument (laju alir, komposisi fase gerak, panjang gelombang analisis dan waktu analisis).
    12. Klik save untuk menyimpan, klik download untuk mengirim parameter ke HPLC.
    13. Aktifkan instrument dengan mengklik ON/OFF.
    14. Tunggu hingga 15 menit.
    15. Perhatikan baseline apakah sudah cukup lurus.
    16. Klik close. Analisis bisa segera dilakukan.

    1. GC 2010 (Gas Chromatography)

    Merek : SHIMADZU

    Model : GC-2010

    Fungsi GC : Untuk memisahkan sample yang bersifat volatile (menguap) sehingga tahan pada suhu tinggi (30-350ºC).

    Ø Sample yang digunakan berupa cairan, bila padatan harus dipreparasi terlebih dahulu.

    Ø Gas yang digunakan yaitu hydrogen dan helium, dikontrol oleh computer.

    Ø GC memiliki detector, sample yang dimasukkan ke detector dengan injection unit.

    Ø Semakin banyak sample semakin banyak ionnya.

    Ø Detector yang digunakan adalah FID (Flame Ionization Detector)

    Spesifikasi

    Software : GC-Solution

    Detector

    Temperature range : 400ºC

    Temperature setting : 1ºC steps

    No.of unit installed simultaneously : upto4unit(restricted depending on)

    Detector type : FID

    FID

    System : dual flow rate differential system

    Temp. range : 400ºC max

    Dynamic range : 105

    Minimum detected quantity : 3pg C/s (dodecane)

    Nozzle : guartz glass standard for packed

    option for capillary

    Prosedur pengoperasian GC-2010

    a. Hubungkan kabel power ke sumber listrik. Hidupkan stabilizer dan UPS.

    b. Siapkan kebutuhan analisis (baku, sample, dll)

    c. Pasang kolom sesuai dengan detector yang akan digunakan ( FID atau TCD)

    d. Buka aliran tabung helium.

    e. Untuk penggunaan FID, buka H2 dan hidupkan kompresor udara.

    f. Hidupkan GC-2010, PC, dan printer.

    g. Pada menu windows klik GC Real Time Analysis 1.

    h. Tentukan detector yang akan digunakan dan klik set untuk menyimpan setting yang telah dibuat.

    i. Isi parameter yang diinginkan (Suhu, injector, tekanan gas pembawa, laju aliran gas pembawa, dll).

    j. Klik save untuk menyimpan. Klik untuk mengirim parameter yang telah diset ke GC.

    k. Tunggu hingga baseline cukup lurus, setelah lurus analisis bisa dilakukan.