Arnisfarida's Blog


PENENTUAN KONSENTRASI TEMBAGA DALAM AKUADES DAN LARUTAN TEMBAGA DENGAN ATOMIC ABSROPTION SPECTROSCOPY (AAS)
Mei 13, 2010, 5:52 pm
Filed under: SPEKTROSKOPI | Tag:

laporan praktikum kromatografi 2-ARNIS FARIDA 2010

Pendahuluan

Prinsip analisis dengan AAS (Atomic Absroption Spectroscopy) adalah interaksi antara energi radiasi dengan atom unsur yang dianalisis. AAS banyak digunakan untuk analisis unsur. Atom suatu unsur akan menyerap energi dan terjadi eksitasi atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan sebagian atau seluruh tenaga eksitasinya dalam bentuk radiasi. Frekuansi radiasi yang dipancarkan karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang tereksitasi yang kemudian mengalami deeksitasi. Teknik ini dikenal dengan SEA (spektrofotometer emisi atom). Untuk AAS keadaan berlawanan dengan cara emisi yaitu, populasi atom pada tingkat dasar dikenakan seberkas radiasi, maka akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. Penyerapan ini menyebabkan terjadinya pengurangan  intensitas radiasi yang diberikan. Pengurangan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. AAS saat ini memiliki lampu katoda yang terdiri dari berbagai unsur seperti Al, Na, K, Pb, Zn, Mn, Co, Cu, B, Ni, Sb, Mo, Se, P, Cr dan sebagainya. Lampu katoda yang akan dipakai disesuaikan dengan unsur yang akan dianalisis (Riyanto 2009).

Tembaga memiliki warna kemerah-merahan. Unsur ini sangat mudah dibentuk, lunak, dan merupakan konduktor yang baik untuk aliran elektron (kedua setelah perak). Tembaga ditemukan secara alami, seperti yang ditemukan dalam mineral-mineral seperti cuprite, malachite, azurite, chalcopyrite, dan bornite. Deposit bijih tembaga yang banyak ditemukan di AS, Chile, Zambia, Zaire, Peru, dan Kanada. Bijih-bijih tembaga yang penting adalah sulfida, oxida-oxidanya, dan karbonat. Tembaga diambil dengan cara smelting, leaching, dan elektrolisis. Tembaga memiliki kegunaan yang luas sebagai racun pertanian dan sebagai algisida dalam pemurnian air. Senyawa-senyawa tembaga seperti solusi Fehling banyak digunakan di bidang kimia analitik untuk tes gula (Mohsin 2006)

Tujuan

Praktikum bertujuan menentukan konsentrasi tembaga dalam akuades dan larutan tembaga dengan metode spektrofotometri serapan atom.

Prosedur

Alat-alat yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dan dibilas dengan akuabides, kemudian dibuat larutan standar tembaga dengan dipipet 1,0; 2,0; 3,0 dan 4 ml larutan stok standar Cu 100 ppm dan ditempatkan dalam labu takar 25 ml. Kemudian larutan ditepatkan sampai tanda tera dengan akuabides, sehingga menghasilkan konsentrasi larutan standar Cu 1, 2, 3, dan 4 ppm. Alat Spektroskopi serapan atom dinyalakan. Larutan standar dianalisis untuk mengetahui absorbansnya dengan dimasukkannya aspirator ke dalam larutan, dengan terlebih dahulu dilakukan pengukuran terhadap blanko. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap sampel Cu dan akuades, analisis dilakukan masing-masing sebanyak enam kali ulangan.

Hasil pengamatan

Tabel 1 Pengukuran Absorbans larutan standar Cu

Volume (ml)

Konsentrasi (ppm)

Absorbans

blanko

0

-0.001

0.25

1

0.092

0.50

2

0.212

0.75

3

0.253

1.00

4

0.371

Gambar 1 Kurva pengukuran absorbans larutan standar Cu

Tabel 2 Pengukuran sampel Cu

Ulangan Absorban Konsentrasi (ppm)
1 0.211 2.2494
2 0.201 2.1355
3 0.179 1.8849
4 0.189 1.9988
5 0.204 2.1697
6 0.199 2.1127
Rata-rata 2.0918

Pembahasan

Suatu senyawa logam dapat ditentukan konsentrasinya dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom nyala. Logam Cu dianalisis pada panjang gelombang 324,70 nm. Metode ini dipilih untuk menentukan konsentrasi tembaga dalam sampel Cu dan akuades. Untuk menentukan konsentrasi Cu maka dibuat kurva standar dari larutan standar Cu 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm dan 4 ppm. Dari kurva standar tersebut diperoleh persamaan garis y = 0.0135 + 0.0878x dengan nilai regresi 0.9690. Kurva standar yang diperoleh kurang baik karena kelinieran yang baik memiliki nilai regresi 0.99-1.00. Ketidaklinieran ini dapat disebabkan karena pemipetan larutan standar yang kurang tepat sehingga mempengaruhi nilai absorbans yang diperoleh. Selain itu dapat pula terjadi penyimpangan hukum Lambert-Beer seperti sebab instrumental (kelelahan alat), sebab kimia (hidrolisis dan ionisasi) dan sebab nyata.

Konsentrasi Cu didapat dengan mensubtitusikan absorbansi sampel kedalam persamaan garis. Hasil analisis konsentrasi Cu rata-rata (mg/L) dalam larutan Cu sebesar 2.0918 mg/L dan konsentrasi Cu rata-rata (mg/L) dalam akuades sebesar -0.3075mg/L. Hasil yang diperoleh menunjukkan konsentrasi Cu dalam larutan Cu lebih besar daripada konsentrasi Cu dalam akuades. Larutan Cu dibuat dengan mencampurkan sejumlah Cu dengan akuades. Oleh karena itu konsentrasi Cu lebih besar. Akuades diperoleh dari hasil penyulingan. Meskipun air mengandung Cu, karena proses penyulingan ion-ion seperti Cu akan teruapkan sehingga didapat air yang lebih murni yang disebut akuades. Ambang batas konsentrasi dari unsur Cu pada air berkisar antara 1 – 5 mg/l. Bila konsentrasi Cu lebih tinggi akan menganggu kehidupan bioata air karena biota perairan sangat peka terhadap kelebihan Cu dalam perairan tempat hidupnya (Palar 1994).

Absorbansi dari sampel akuades tidak masuk kedalam deret standar dan konsentrasi Cu yang diperoleh sangat kecil. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat larutan standar dengan konsentrasi yang lebih rendah lagi. Standar deviasi yang diperoleh dari sampel Cu sebesar 0.1312 dengan %RSD yaitu 6.22% dan pada sampel akuades sebesar 6.2440.10-3 dengan %RSD yaitu -2.0305. Hasil yang diperoleh akan baik bila memiliki nilai %RSD 1-2%, kurang teliti bila nilai %RSD 2-5% dan tidak teliti bila nilai %RSD lebih besar dari 5%. AAS merupakan alat yang memiliki sensitivitas tinggi. Kesalahan yang mungkin terjadi dapat dikarenakan faktor matriks sampel antara lain dapat berupa pengendapan unsur yang dianalisa, hidrolisis ion-ion logam dalam air, reaksi dengan anion lain, jumlah cuplikan dan standar yang mencapai nyala tidak sama karena perbedaan sifat dari kedua larutan tersebut.

Simpulan

Berdasarkan hasil percobaan konsentrasi Cu dalam larutan Cu sebesar dengan %RSD yaitu dan konsentrasi Cu dalam akuades sebesar dengan %RSD yaitu .

Daftar Pustaka

Khopkar SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Suptarahardjo, penerjemah. Jakarta : UI Press. Terjemahan dari : Basic Concept Of Analytical Chemistry.

Mohsin Yulianto. 2006. Tembaga (terhubung berkala)

http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/tembaga/ (14 Apr 10)

Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT Rineka. Jakarta.

Riyanto .2009. Spektrofotometer serapan atom (terhubung berkala). www.uii.ac.id

(16 Mar 10)

Iklan


PENENTUAN KADAR ZAT PENGAWET DALAM MINUMAN ISOTONIK DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI
Mei 12, 2010, 7:57 pm
Filed under: KROMATOGRAFI | Tag:

LAPORAN PRAKTIKUM KROMATOGRAFI 2- ARNIS FARIDA 2010

Pendahuluan

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia. KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat. Banyak kelebihan metode ini jika dibandingkan dengan metode lainnya yaitu mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran, mudah melaksanakannya, kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi, dapat dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan yang dianalisis, resolusi yang baik, dapat digunakan bermacam-macam detektor, kolom dapat digunakan kembali, dan mudah melakukan “sample recovery” (Effendy 2004)

Suatu detektor dibutuhkan untuk mendeteksi adanya komponen sampel di dalam kolom (analisis kualitatif) dan menghitung kadamya (analisis kuantitatif). Detektor yang baik memiliki sensitifitas yang tinggi, gangguan (noise) yang rendah, kisar respons linier yang luas, dan memberi respons untuk semua tipe senyawa. Suatu kepekaan yang rendah terhadap aliran dan fluktuasi temperatur sangat diinginkan, tetapi tidak selalu dapat diperoleh. Detektor KCKT yang umum digunakan adalah detektor UV 254 nm. Variabel panjang gelombang dapat digunakan untuk mendeteksi banyak senyawa dengan range yang lebih luas. Detektor indeks refraksi juga digunakan secara luas, terutama pada kromatografi eksklusi, tetapi umumnya kurang sensitif jika dibandingkan dengan detektor UV.

Natrium benzoat yaitu garam atau ester dari asam benzoat (C6H5COOH) secara komersial dibuat dengan sintesis kimia. Rumus kimia natrium benzoat yaitu C7H5NaO2. Banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran. Termasuk kedalam zat pengawet organik. Produk pangan yang banyak menggunakan natrium benzoat sebagai pengawet adalah minuman ringan serta produk minuman yang terbuat dari buah. Berwarna putih, granula tanpa bau atau hampir bau, bubuk kristal atau serpihan. Lebih larut dalam air dibandingkan asam benzoat dan juga dapat larut dalam alkohol. Memiliki fungsi sebagai anti mikroba yang optimum pada pH 2.5-4.0, menghambat pertumbuhan kapang dan khamir (pengawet). Kalium sorbat adalah salah satu bahan pengawet makanan dan minuman, diturunkan sebagai garam potasium dari asam sorbat. Berat molekul kimia ini adalah 150,22 g / molekul. Nama ilmiah adalah kalium (E, E)-hexa-2 ,4-dienoate. Kalium sorbat digunakan untuk membatasi produksi ragi dan jamur dalam berbagai bahan makanan.

Tujuan

Praktikum bertujuan menentukan kadar zat pengawet natrium benzoat dan kalium sorbat dalam minuman isotonik dengan kromatografi cair kinerja tinggi.

Prosedur

Sampel minuman isotonik diencerkan 10 kali, sebanyak 2.5 ml sampel diambil dengan pipet ke dalam labu takar 25 ml dilakukan duplo. Sampel pertama tidak ditambahkan zat pengawet dan sampel kedua ditambahkan 5 ml natrium benzoat dan dipaskan sampai tanda tera dengan akuabides.

Standar natrium benzoat, kalium sorbat dan standar campuran natrium benzoat dan kalium sorbat dibuat dengan konsentrasi 20 ppm, masing-masing dari larutan standar induk 100 ppm diambil dengan pipet sebanyak 5 ml kedalam labu takar 25 ml dan dipaskan sampai tanda tera dengan akuabides.

Standar dan sampel dihilangkan gelembung dan pengotor dengan ultrasonic cleaner lalu disaring dengan membran filter 0.45 mikron. Selanjutnya diatur kondisi alat seperti fase gerak asam asetat dan asetonitril dengan perbandingan 60:40, laju alir yaitu 1 ml/menit, detektor UV 235 nm dan waktu analisis 12 menit. Kemudian sebanyak 25 µl diinjeksikan kedalam kromatografi cair kinerja tinggi.

Hasil pengamatan

Tabel 1 luas area natrium benzoat dan kalium sorbat

Senyawa Luas area Waktu retensi
Std. Na-Benzoat 7814296 10.693
Std. Kalium Sorbat 8779756 12.987
Sampel 1 Na-Benzoat 7017168 10.763
Sampel 2 Na-Benzoat 4421284 10.817
Sampel 2 kalium sorbat 5095097 13.167

Konsentrasi standar 30 ppm

Perbandingan luas area sampel 1 natrium benzoat :

Perbandingan luas area sampel 2 natrium benzoat :

Perbandingan luas area sampel 2 kalium sorbat :

Pembahasan

Penentuan kadar zat pengawet dalam minuman isotonik dilakukan dengan kromatografi cair kinerja tinggi. Zat pengawet seperti natrium benzoat dan kalium sorbat yang dapat terkandung dalam minuman isotonik berguna untuk mempertahankan produk dari kerusakan dan bakteri serta kapang. Selain natrium benzoat dan kalium sorbat terdapat pula beberapa zat pengawet lain yang terkandung dalam makanan atau minuman seperti asam propionat, asam sorbat, belerang dioksida, etil p-hidroksi benzoat, kalium benzoat, kalium bisulfit, kalium nitrat, kalium nitrit, kalium propionat, kalium sulfit, kalsium benzoat, kalsium propionat, metil p-hidroksi benzoat, natrium bisulfit, natirum metabisulfit, natrium nitrat, natrium nitrit, natrium propionat, natrium sulfit, nisin, dan propil p-hidroksi benzoat (Mangku 2006).

Percobaan tidak menggunakan deret standar, untuk menghitung konsentrasi zat pengawet dalam minuman isotonik dilakukan dengan perbandingan luas area. Luas area sampel dibandingkan dengan luas area standar dan dikalikan konsentrasi standar serta faktor pengenceran sebesar 10 kali. Untuk sampel pertama tidak dilakukan penambahan standar dan untuk sampel 2 dilakukan penambahan standar atau adisi standar yaitu kedalam sampel dimasukkan sedikit standar dengan konsentrasi tertentu dengan maksud mengetahui konsentrasi sampel sebenarnya. Namun dalam percobaan, pemisahan yang dihasilkan tidak baik. Puncak dari natrium benzoat dan kalium sorbat saling berdekatan karena panjang gelombang maksimum kedua zat tersebut saling berdekatan, natrium benzoat memiliki panjang gelombang maksimum pada 225 nm dan kalium sorbat pada 254 nm. Oleh karena itu digunakanlah data sekunder.

Dari data yang diperoleh, kadar zat pengawet natrium benzoat pada sampel 1 sebesar  dengan persen bobot per volum yaitu  yang artinya dalam 100 ml sampel terdapat 0.01 gram zat pengawet natrium benzoat. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 157.89%. Sampel 2 mengandung zat pengawet natrium benzoat dan kalium sorbat. Dari data yang diperoleh, kadar zat pengawet natrium benzoat pada sampel 2 sebesar  dengan persen bobot per volum yaitu  yang artinya dalam 100 ml sampel terdapat 0.01 gram zat pengawet natrium benzoat. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 52.63%. Selain natrium benzoat, sampel 2 juga mengandung zat pengawet kalium sorbat. Berdasarkan data yang diperoleh, kadar zat pengawet kalium sorbat pada sampel 2 sebesar  dengan persen bobot per volum yaitu  yang artinya dalam 100 ml sampel terdapat 0.01 gram zat pengawet kalium sorbat. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 45.45%. Persen ketepatan yang baik berkisar antara 70-130%.

Menurut Guru Besar Teknologi Pangan & Gizi IPB, Prof Made Astawan, menjelaskan natrium benzoat aman dikonsumsi jika kadarnya tidak melebihi 600 ppm. Sementara kalium sorbat aman dalam taraf di bawah 1.000 ppm (Elistiawaty 2006). Penggunaan maksimum K-sorbat dalam makanan berkisar antara 0,05 – 0,3 % untuk yang diaplikasikan langsung dan antara 10 – 20 % untuk yang disemprotkan atau diaplikasikan pada permukaan makanan (Lutfi 2009). Menurut Permenkes Nomor 722/Menkes/IX/88 tentang kadar aman bagi tubuh untuk mengasup kalium sorbat yakni 1.000 mg per liter dan natrium benzoat 600 mg per liter. Bila melebihi ambang batas bahan pengawet yang aman dikonsumsi manusia dapat menimbulkan penyakit Systemic Lupus Eritematosus (SLE) dan semua penderita SLE beresiko meninggal dunia (Mangku 2006).

Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab kesalahan antara lain, sampel masih terdapat pengotor sehingga pemisahan tidak baik. Pada sampel terdapat juga zat-zat lain yang mempunyai waktu tambat yang berdekatan dengan waktu tambat natrium benzoat dan kalium sorbat, khusunya gula dan vitamin. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi puncak yang dihasilkan oleh sampel untuk memastikan bahwa puncak itu adalah puncak sampel yang dimaksud. Selain itu, sampel yang diinjeksikan tidak boleh ada gelembung karena gelembung dapat menganggu proses pemisahan.

Daftar Pustaka

Effendy. 2004. Jurnal Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dalam Bidang Farmasi Jurusan

Farmasi Fakultas Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara

Elistiawaty .2006. Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat Aman Dikonsumsi (terhubung

berkala) www.detiknews.com (2 Apr 10)

Gritter. 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung : penerbit ITB.

Lutfi Achmad. 2009. Kalium Sorbat (terhubung berkala) www.chem-is-try.com (1 Apr 10)

Mangku. 2006. Produk Minuman Isotonik Berpengawet (terhubung berkala)

www.suarakaryaonline.com (1 Apr 10)



PEMISAHAN DAN PENENTUAN KADAR ETANOL DENGAN KROMATOGRAFI GAS
Mei 12, 2010, 7:48 pm
Filed under: KROMATOGRAFI | Tag:

laporan praktikum kromatografi 2- arnis farida 2010

Pendahuluan
Etanol yang nama lainnya alkohol, aethanolum, etil alcohol, adalah cairan yang bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, mudah terbakar, higroskopik dengan karakteristik bau spiritus dan rasa membakar, mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Campur dengan air, kloroform, eter, gliserol, dan hampir semua pelarut organic lainnya. Penyimpanan pada suhu 8-15°C, jauh dari api dalam wadah kedap udara dan dilindungi dari cahaya, serta mempunyai rumus struktur sebagai berikut :

CH3-CH2-OH

Kromatografi gas adalah teknik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa-senyawa tersebut harus mudah menguap dan stabil pada temperatur pengujian, utamanya dari 50 – 300°C. Jika senyawa tidak mudah menguap atau tidak stabil pada temperatur pengujian, maka senyawa tersebut bisa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas (Mardoni 2005). Dalam kromatografi gas atau KG, fase gerak berupa gas lembam seperti helium, nitrogen, argon bahkan hidrogen digerakkan dengan tekanan melalui pipa yang berisi fase diam. Tekanan uap atau keatsirian memungkinkan komponen menguap dan bergerak bersama-sama dengan fase gerak yang berupa gas. Kromatografi gas merupakan metode yang sangat tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit.. Komponen campuran dapat diidentifikasi dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi) yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam kolom (Gritter 1991).
Metode standar internal dilakukan dengan menggunakan zat standar lain ( S) yang ditambahkan ke dalam larutan standar X dan dalam larutan sampel yang mengandung unsur X yang akan dianalisis dengan konsetrasi yang sama kemudian larutan diukur pada panjang gelombang X dan panjang gelombang S (untuk detektor UV). Kurva kalibrasi dibuat dengan mengalurkan grafik hubungan (Ix/Is) terhadap konsentrasi (Cx) dari kurva tersebut dapat diperoleh harga konsetrasi zat sample yang dianalisis.
Keterangan : Ix = intensitas sample pada panjang gelombang maks cuplikan
Is = intensitas sample pada panjang gelombang mak zat standar lain
Cx = konsentrasi cuplikan

Tujuan
Percobaan bertujuan memisahkan dan menentukan kadar etanol dengan metode standar internal menggunakan kromatografi gas.

Prosedur
Pemisahan etanol, larutan standar disiapkan dengan berbagai konsentrasi standar yaitu 1%, 2%, 3% dan 4%. Untuk larutan standar 1% yaitu dipipet 1.25 ml etanol dalam labu takar 25 ml, untuk standar 2% dipipet 2.5 ml etanol, untuk standar 3% dipipet 3.75 ml etanol dan untuk standar dengan konsentrasi 4% dipipet 5 ml etanol. Kemudian pada masing-masing labu takar ditambahkan 5 ml standar internal n-propanol dan ditera dengan akuabides. Untuk sampel dibuat dari 5 ml sampel alkohol dan 5 ml n-propanol lalu ditera dengan akuabides dalam labu takar 25 ml. Selanjutnya sebanyak 2 µl larutan standar dan sampel diinjeksikan kedalam alat kromatografi gas. Ditunggu dan dicatat waktu retensi dan luas puncak dari komponen alkohol yang dianalisis.

Hasil
Tabel 1 Perbandingan luas area etanol dan n-propanol
Konsentrasi standar (%) Luas area Et-OH Luas area Pr-OH Et-OH/Pr-OH
1 1696 5801 0.29
2 26168 71420 0.37
3 111921 152526 0.73
4 66884 62463 1.07
Sampel 1 71984 671357 0.11
Sampel 2 3756 45354 0.08

Sampel 1 :
y = a + bx
0.11 = -0.06 + 0.27x
x = 0.6296 %
x . FP = 0.6296 . 5 = 3.1481%

Sampel 2 :
y = a + bx
0.08 = -0.06 + 0.27x
x = 0.5185 %
x . FP = 0.5185 . 5 = 2.5925%

x rata-rata = (3.1481% + 2.5925%) /2 = 2.8703%

Pembahasan
Terdapat tiga metode analisis kuantitatif dengan menggunakan kromatografi gas, yaitu metode standar kalibrasi, metode standar internal, dan metode normalisasi area. Pada percobaan digunakan metode standar internal dengan menambahkan standar internal yaitu n-propanol kedalam standar etanol. Metode standar internal atau standar dalam, yaitu metode yang digunakan apabila tinggi dan luas peak kromatografi tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya contoh, tetapi juga oleh fluktuasi laju aliran gas pengemban, temperatur kolom dan detektor, dan sebagainya, yaitu oleh variasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan dan respon detektor. Efek tersebut dapat dihilangkan dengan metode standar internal yang diketahui dari zat pembanding ditambah sampel yang akan dianalisis.
Syarat untuk standar internal yang efektif, yaitu pertama harus menimbulkan peak yang terpisah sepenuhnya, tapi harus terelusi dengan komponen-komponen yang akan diukur. Kedua, tinggi atau luas peak harus sama dengan tinggi atau luas peak dari komponen-komponen yang akan diukur. Ketiga, secara kimiawi harus serupa dengan sampel, tapi tidak diperoleh dalam sample aslinya. Untuk menganalisis sampel, pada campuran/cuplikan sampel ditambahkan standar internal n-propanol dengan kuantitas dan volume yang sama yaitu 5 ml, maka dari angka banding akan teramati luas-luas peak dan konsentrasi zat terlarut yang dapat dibaca pada kurva. Angka banding untuk standar 1%, 2%, 3%, dan 4% masing-masing sebesar 0.29, 0.37, 0.73, dan 1.07. Angka banding untuk sampel pertama sebesar 0.11 dan untuk sampel kedua sebesar 0.08. Dari angka banding tersebut dibuatlah kurva kalibrasi hubungan antara konsentrasi standar dalam persen dan rasio (angka banding). Kurva kalibrasi yang dihasilkan dari injeksi sejumlah standar etanol menghasilkan suatu garis lurus dengan nilai r (kelinieran) yaitu 0.9445. Kurva yang diperoleh tidak terlalu baik. Kurva yang baik memiliki nilai r antara 0.99-1.00.
Metode standar internal berfungsi mengeliminasi kesalahan dalam proses injeksi dalam kromatografi gas. Injeksi memiliki kemungkinan kesalahan yang besar. Saat sebelum cuplikan mencapai detektor, cuplikan sudah menguap terlebih dahulu sehingga yang masuk kedalam kolom sudah berkurang. Seperti dalam percobaan, luas area standar 2% jauh lebih besar dibandingkan luas area standar 1%, hal ini dapat dikarenakan kesalahan saat injeksi (valve dan saat penginjeksian cuplikan sudah menguap). Detektor yang lebih sering digunakan adalah FID (Flame Ionization Detector). FID juga memiliki kekurangan, yaitu pengrusakan setiap hasil yang keluar dari kolom sebagaimana yang terdeteksi. Jika akan mengrimkan hasil ke spektrometer massa, misalnya untuk analisa lanjut, detektor ini tidak dapat digunakan.

Simpulan
Dari hasil percobaan diperoleh kesimpulan bahwa kadar etanol dalam sampel sebesar 2.8703%.

Daftar Pustaka
Gritter. 1991. Kromatografi. Bandung : Penerbit ITB.
Khopkar S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Mardoni, M.M.Yetty Tjandrawati . 2005. Jurnal Perbandingan Metode Kromatografi Gas Dan Berat Jenis Pada Penetapan Kadar Etanol Dalam Minuman Anggur.
Underwood AL dan Day RA. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Sopyan lis,
penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Quantitative Analysis.



PENENTUAN KADAR KAFEIN DALAM OBAT ANALGESIK DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI
Mei 12, 2010, 7:37 pm
Filed under: KROMATOGRAFI | Tag:

PENENTUAN KADAR KAFEIN DALAM OBAT ANALGESIK DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Pendahuluan
Kafein adalah seyawa kimia yang terdapat didalam kopi, cocoa, dan juga teh, dengan rumus kimia C8H10O2N4.

Gambar 1 Struktur kafein
Kelarutan kafein dalam air semakin meningkat dengan naiknya temperatur. Secara umum kafein telah digunakan secara luas dalam bidang industri pangan dan farmasi, seperti dalam pembuatan minuman kaleng soft drink, dan juga obat untuk terapi / stimulan perbaikan syaraf dan diuretik. Kafein termasuk dalam alkaloid kelompok purine, disebut teobromin jika berada dalam coklat dan teamin jika berada dalam teh. Kafein meleleh pada temperatur 237,5 °C dan menyublim pada temperatur 176 °C tanpa terdekomposisi. Larutan jenuh kafein dalam air bersifat netral. Selain memberikan efek peningkatan energi, kafein juga berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi dan berperan sebagai diuretik. Selama konsumsi kafein tidak berlebihan, efek positif yang ditimbulkan dapat meng-cover efek negatif yang muncul. Berdasarkan pengalaman, konsumsi ideal kafein untuk mendapatkan manfaat yang diharapkan adalah 50 – 300 mg. Pada dosis ini diharapkan akan timbul efek kewaspadaan, energi, dan peningkatan konsentrasi. Kafein yang dikonsumsi secara berlebihan mengakibatkan gejala kegelisahan yang berlebihan, gugup, dan insomnia (Sitompul 2009).
Kolom pada KCKT terdapat dua jenis, yaitu kolom utama dan kolom pelindung. Kolom utama memiliki penyangga yaitu silika. Pada umumnya tabung kolom terbuat dari baja nirkarat yang digosok, berdiameter 3-5 mm dan panjang 5-30 cm. Panjang kolom yang dipakai berbanding lurus dengan kerumitan cuplikan yang akan dipisahkan. Campuran sederhana sering dapat dipisahkan dengan kolom 5 cm, serta laju aliran fase gerak yang tinggi. Campuran yang lebih rumit mungkin memerlukan kolom 15-25 cm untuk pemisahan yang sempurna. Kolom pelindung adalah kolom pendek biasanya 5 cm dengan kemasan kolom utama dan dipasang diantara sistem penyuntikan cuplikan dan kolom utama. Kolom jenis ini murah, mudah dikemas, dan tekanan baliknya kecil. Kolom pelindung harus sering diganti untuk memelihara keandalan kolom utama yang harganya jauh lebih mahal (Gritter 1991).

Tujuan
Praktikum bertujuan menentukan kadar kafein dalam obat analgesik dengan kromatografi cair kinerja tinggi.

Prosedur
Preparasi standar, larutan induk kafein 100 ppm dibuat menjadi larutan standar 10, 25, dan 50 ppm dalam labu takar 25 ml. Larutan standar induk dipipet secara berurutan sebanyak 2,5 ml , 6,25 ml dan 12,5 ml lalu ditera dengan akuabides. Preparasi sampel, bobot awal obat analgesik ditimbang. Kemudian obat analgesik tersebut digerus dalam mortar dan ditimbang sebanyak 0.05 gram. Selanjutnya dilarutkan dengan akuabides dalam labu takar 50 ml. Semua standar dan sampel disaring dengan membran filter. Sebanyak 10 mikroliter standar dan sampel diinjeksikan kedalam kromatografi cair kinerja tinggi dengan waktu pemisahan selama 5 menit.

Hasil dan Perhitungan
Tabel 1 Deret standar kafein
Konsentrasi standar (ppm) Luas Area
10 471425
25 1144630
50 1956653

Gambar 2 Kurva deret standar

Tabel 2 Penentuan kadar kafein dalam sampel obat analgesik
Ulangan Luas Area Konsentrasi (ppm) % b/b % ketepatan % ketelitian
1 2392242 61.1309 5.88 97.51
2 603842 12.3185 1.231 20.16 62.62
3 2343887 59.8953 5.87 97.38
• Sampel 1 :
Bobot tablet 1 = 0.8292 gram
Bobot yang ditimbang = 0.0520 gram = 52 mg
50 mg dalam tablet %b/b = mg analat .x 100%
, mg sampel
= 50 mg .x100%
829.2 mg
= 6.03 %
Perbandingan luas area = LA Sampel . x [std]
LA Std terbesar
= 2392242 .x 50
1956653
= 61.1309 ppm
61.13089 ppm = 61.13 mg / L = 61.13 x 0.05 = 3.056 mg
% b/b = 3.056 mg .x 100%
52 mg
= 5.88%
%ketepatan = 5.88 .x 100%
6.03
= 97.51 %

• Sampel 2 :
Bobot tablet 2 = 0.8190 gram
Bobot yang ditimbang = 0.0500 gram = 50mg
50 mg dalam tablet %b/b = mg analat .x 100%
, mg sampel
= 50 mg .x100%
819 mg
= 6.11 %
.a = 152309.4082
.b = 36656.2326
.r = 0.9960
. y = a + bx
603862 = 152309.4082 + 36656.2326 x
. x = 12.3185 ppm
12.31 x 0.05 = 0.6155 mg
% b/b = 0.6155 mg .x 100%
50 mg
= 1.231%
%ketepatan = 1.231 .x 100%
6.11
= 20.16 %

• Sampel 3 :
Bobot tablet 3 = 0.8287 gram
Bobot yang ditimbang = 0.0510 gram = 51mg
50 mg dalam tablet %b/b = mg analat .x 100%
, mg sampel
= 50 mg .x100%
828.7 mg
= 6.03 %
Perbandingan luas area = LA Sampel . x [std]
LA Std terbesar
= 2343887.x 50
1956653
= 59.8953 ppm
59.8953 ppm = 59.89 mg / L = 59.89 x 0.05 = 2.9947 mg
% b/b = 2.9947 mg .x 100%
51 mg
= 5.87 %
%ketepatan = 5.87 .x 100%
6.03
= 97.38 %

%ketelitian = √ (x-x)2
. (n-1) . x 100%
x
= √ (61.1309 – 44.4482) 2 (12.3185 – 44.4482) 2
. (3-1) . + . (3-1) .
44.4482 44.4482
(12.3185 – 44.4482) 2
. (3-1) . x 100%
59.8953
= 62.62 %
Pembahasan
Penentuan kadar kafein dalam obat analagesik dilakukan dengan kromatografi cair kinerja tinggi. Kafein selain pada obat terdapat pula pada kopi, teh dan minuman berenergi. Dengan kromatografi cair kinerja tinggi dilakukan pemisahan kafein dari senyawa-senyawa lain yang terdapat dalam obat analgesik tersebut. Kafein terdeteksi pada waktu retensi 7 menit. Standar yang digunakan adalah standar kafein dengan konsentrasi 10, 25, dan 50 ppm. Konsentrasi sampel 2 masuk kedalam deret standar yaitu 12.31 ppm, sedangkan Sampel 1 dan sampel 3 konsentrasinya melebihi standar yaitu 61.1309 ppm dan 59.8953 ppm.
Sampel 1 dan sampel 3 karena konsentrasi yang didapat melebihi deret standar maka konsentrasinya tidak dihitung menggunakan regresi linier melainkan dihitung dengan perbandingan luas area. Luas area sampel dibandingkan dengan luas area terbesar dan dikalikan konsentrasi standar. Diperoleh konsentrasi sampel 1 sebesar 61.1309 ppm dan sampel 3 sebesar 59.8953 ppm. Persen bobot per bobot diperoleh sebesar 5.88 % dan 5.87% artinya bahwa dalam 100 mg sampel terkandung 5.88 mg kafein untuk sampel 1 dan 5.87 mg kafein untuk sampel 3. Persen ketepatan yang diperoleh sebesar 97.51% untuk sampel 1 dan 97.38% untuk sampel 3. Hasil percobaan dikatakan akurat bila memiliki persen ketepatan 70-130%. Bila hasil memiliki persen ketepatan diatas 100% dapat dikatakan kesalahan positif, kesalahan yang masih dapat ditolerir.
Sampel 2 dihitung konsentrasinya menggunakan regresi linier dengan persamaan garis y = 152309.4082 + 36656.2326 x dan nilai r sebesar 0.9960. Hasil yang diperoleh mendekati sempurna yaitu nilai r mendekati 1. Persen bobot per bobot untuk sampel 2 diperoleh 1.231% artinya bahwa dalam 100 mg sampel mengandung 1.231 mg kafein.. Dalam penetuan konsentrasi kafein pada sampel 2, obat analgesik ditimbang mengunakan kertas dan langsung dimasukkan kedalam labu takar. Seharusnya sampel ditimbang menggunakan kaca arloji dan selanjutnya dipindahkan dahulu kedalam gelas piala sambil dibilas dengan akuabides dan kemudian dari gelas piala dipindahkan kedalam labu takar dan ditera. Bila sampel obat analgesik tersebut ditimbang menggunakan kertas, dimungkinkan kertas dapat menyerap sampel sehingga konsentrasi yang akan diperoleh menjadi berkurang dari yang sebenarnya. Persen ketelitian yang diperoleh sebesar 62.62%. Dari ketiga sampel yang duiji kadar kafeinnya tidak melebihi ambang batas kafein dalam obat. Ambang batas kafein dalam obat analgesik atau pereda rasa nyeri sebesar 32-65 mg (Harsa 2010). Bila kadar kafein melebihi ambang batas dapat menyebabkan, gangguan kesehatan, seperti jantung berdebar, gelisah, insomnia (sulit tidur), gugup tremor (tangan bergetar), ketergantungan bahkan mual sampai muntah-muntah.

Simpulan
Berdasarkan percobaan diperoleh hasil bahwa kadar kafein dalam obat analgesik sebesar 62.62%

Daftar pustaka
Harsa. 2010. Efek Buruk Kafein (terhubung berkala) http://knohca.multiply.com/journal/item/7 (28 Mar 10)
Gritter. 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung : penerbit ITB.
Sitompul J.P. 2009. Studi Dekafeinasi Kopi dengan CO2 Superkritik
dan Perolehan Kafein. Jurnal Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 Bandung, 19-20 Oktober 2009