Arnisfarida's Blog


PENENTUAN KONSENTRASI TEMBAGA DALAM AKUADES DAN LARUTAN TEMBAGA DENGAN ATOMIC ABSROPTION SPECTROSCOPY (AAS)
Mei 13, 2010, 5:52 pm
Filed under: SPEKTROSKOPI | Tag:

laporan praktikum kromatografi 2-ARNIS FARIDA 2010

Pendahuluan

Prinsip analisis dengan AAS (Atomic Absroption Spectroscopy) adalah interaksi antara energi radiasi dengan atom unsur yang dianalisis. AAS banyak digunakan untuk analisis unsur. Atom suatu unsur akan menyerap energi dan terjadi eksitasi atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan sebagian atau seluruh tenaga eksitasinya dalam bentuk radiasi. Frekuansi radiasi yang dipancarkan karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang tereksitasi yang kemudian mengalami deeksitasi. Teknik ini dikenal dengan SEA (spektrofotometer emisi atom). Untuk AAS keadaan berlawanan dengan cara emisi yaitu, populasi atom pada tingkat dasar dikenakan seberkas radiasi, maka akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. Penyerapan ini menyebabkan terjadinya pengurangan  intensitas radiasi yang diberikan. Pengurangan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. AAS saat ini memiliki lampu katoda yang terdiri dari berbagai unsur seperti Al, Na, K, Pb, Zn, Mn, Co, Cu, B, Ni, Sb, Mo, Se, P, Cr dan sebagainya. Lampu katoda yang akan dipakai disesuaikan dengan unsur yang akan dianalisis (Riyanto 2009).

Tembaga memiliki warna kemerah-merahan. Unsur ini sangat mudah dibentuk, lunak, dan merupakan konduktor yang baik untuk aliran elektron (kedua setelah perak). Tembaga ditemukan secara alami, seperti yang ditemukan dalam mineral-mineral seperti cuprite, malachite, azurite, chalcopyrite, dan bornite. Deposit bijih tembaga yang banyak ditemukan di AS, Chile, Zambia, Zaire, Peru, dan Kanada. Bijih-bijih tembaga yang penting adalah sulfida, oxida-oxidanya, dan karbonat. Tembaga diambil dengan cara smelting, leaching, dan elektrolisis. Tembaga memiliki kegunaan yang luas sebagai racun pertanian dan sebagai algisida dalam pemurnian air. Senyawa-senyawa tembaga seperti solusi Fehling banyak digunakan di bidang kimia analitik untuk tes gula (Mohsin 2006)

Tujuan

Praktikum bertujuan menentukan konsentrasi tembaga dalam akuades dan larutan tembaga dengan metode spektrofotometri serapan atom.

Prosedur

Alat-alat yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dan dibilas dengan akuabides, kemudian dibuat larutan standar tembaga dengan dipipet 1,0; 2,0; 3,0 dan 4 ml larutan stok standar Cu 100 ppm dan ditempatkan dalam labu takar 25 ml. Kemudian larutan ditepatkan sampai tanda tera dengan akuabides, sehingga menghasilkan konsentrasi larutan standar Cu 1, 2, 3, dan 4 ppm. Alat Spektroskopi serapan atom dinyalakan. Larutan standar dianalisis untuk mengetahui absorbansnya dengan dimasukkannya aspirator ke dalam larutan, dengan terlebih dahulu dilakukan pengukuran terhadap blanko. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap sampel Cu dan akuades, analisis dilakukan masing-masing sebanyak enam kali ulangan.

Hasil pengamatan

Tabel 1 Pengukuran Absorbans larutan standar Cu

Volume (ml)

Konsentrasi (ppm)

Absorbans

blanko

0

-0.001

0.25

1

0.092

0.50

2

0.212

0.75

3

0.253

1.00

4

0.371

Gambar 1 Kurva pengukuran absorbans larutan standar Cu

Tabel 2 Pengukuran sampel Cu

Ulangan Absorban Konsentrasi (ppm)
1 0.211 2.2494
2 0.201 2.1355
3 0.179 1.8849
4 0.189 1.9988
5 0.204 2.1697
6 0.199 2.1127
Rata-rata 2.0918

Pembahasan

Suatu senyawa logam dapat ditentukan konsentrasinya dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom nyala. Logam Cu dianalisis pada panjang gelombang 324,70 nm. Metode ini dipilih untuk menentukan konsentrasi tembaga dalam sampel Cu dan akuades. Untuk menentukan konsentrasi Cu maka dibuat kurva standar dari larutan standar Cu 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm dan 4 ppm. Dari kurva standar tersebut diperoleh persamaan garis y = 0.0135 + 0.0878x dengan nilai regresi 0.9690. Kurva standar yang diperoleh kurang baik karena kelinieran yang baik memiliki nilai regresi 0.99-1.00. Ketidaklinieran ini dapat disebabkan karena pemipetan larutan standar yang kurang tepat sehingga mempengaruhi nilai absorbans yang diperoleh. Selain itu dapat pula terjadi penyimpangan hukum Lambert-Beer seperti sebab instrumental (kelelahan alat), sebab kimia (hidrolisis dan ionisasi) dan sebab nyata.

Konsentrasi Cu didapat dengan mensubtitusikan absorbansi sampel kedalam persamaan garis. Hasil analisis konsentrasi Cu rata-rata (mg/L) dalam larutan Cu sebesar 2.0918 mg/L dan konsentrasi Cu rata-rata (mg/L) dalam akuades sebesar -0.3075mg/L. Hasil yang diperoleh menunjukkan konsentrasi Cu dalam larutan Cu lebih besar daripada konsentrasi Cu dalam akuades. Larutan Cu dibuat dengan mencampurkan sejumlah Cu dengan akuades. Oleh karena itu konsentrasi Cu lebih besar. Akuades diperoleh dari hasil penyulingan. Meskipun air mengandung Cu, karena proses penyulingan ion-ion seperti Cu akan teruapkan sehingga didapat air yang lebih murni yang disebut akuades. Ambang batas konsentrasi dari unsur Cu pada air berkisar antara 1 – 5 mg/l. Bila konsentrasi Cu lebih tinggi akan menganggu kehidupan bioata air karena biota perairan sangat peka terhadap kelebihan Cu dalam perairan tempat hidupnya (Palar 1994).

Absorbansi dari sampel akuades tidak masuk kedalam deret standar dan konsentrasi Cu yang diperoleh sangat kecil. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat larutan standar dengan konsentrasi yang lebih rendah lagi. Standar deviasi yang diperoleh dari sampel Cu sebesar 0.1312 dengan %RSD yaitu 6.22% dan pada sampel akuades sebesar 6.2440.10-3 dengan %RSD yaitu -2.0305. Hasil yang diperoleh akan baik bila memiliki nilai %RSD 1-2%, kurang teliti bila nilai %RSD 2-5% dan tidak teliti bila nilai %RSD lebih besar dari 5%. AAS merupakan alat yang memiliki sensitivitas tinggi. Kesalahan yang mungkin terjadi dapat dikarenakan faktor matriks sampel antara lain dapat berupa pengendapan unsur yang dianalisa, hidrolisis ion-ion logam dalam air, reaksi dengan anion lain, jumlah cuplikan dan standar yang mencapai nyala tidak sama karena perbedaan sifat dari kedua larutan tersebut.

Simpulan

Berdasarkan hasil percobaan konsentrasi Cu dalam larutan Cu sebesar dengan %RSD yaitu dan konsentrasi Cu dalam akuades sebesar dengan %RSD yaitu .

Daftar Pustaka

Khopkar SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Suptarahardjo, penerjemah. Jakarta : UI Press. Terjemahan dari : Basic Concept Of Analytical Chemistry.

Mohsin Yulianto. 2006. Tembaga (terhubung berkala)

http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/tembaga/ (14 Apr 10)

Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT Rineka. Jakarta.

Riyanto .2009. Spektrofotometer serapan atom (terhubung berkala). www.uii.ac.id

(16 Mar 10)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: